Pemkot Yogya Siapkan Empat Titik Parkir Pengganti ABA, Terminal Giwangan Jadi Prioritas

Ia menyebutkan bahwa Pemkot Jogja tengah memetakan dan menyiapkan empat titik strategis yang akan dijadikan kantong parkir sementara.

Penulis: Hanif Suryo | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM/ HANIF SURYO
ALTERNATIF PARKIR: Wali Kota Yogya, Hasto Wardoyo ditemui di Kompleks Kepatihan, Selasa (15/4/2025). Hasto menjelaskan soal rencana pembongkaran ABA dan alternatif parkir dekat Malioboro. 

TRIBUNJOGJA.COM - Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan komitmennya untuk mengikuti arahan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X terkait rencana relokasi juru parkir dan penataan kawasan TKP Abu Bakar Ali (ABA).

“Saya mengikuti apa yang menjadi arahan Ngarsa Dalem. Ngarsa Dalem mengarahkan supaya kita itu empati, terus betul-betul mengurus orang-orang yang nantinya akan direlokasi. Itu kami tindak lanjuti. Arahan beliau sangat penting dan kami akan segera bergegas untuk menyiapkan itu,” kata Hasto ditemui di Kompleks Kepatihan, Selasa (15/4/2025).

Ia menyebutkan bahwa Pemkot Jogja tengah memetakan dan menyiapkan empat titik strategis yang akan dijadikan kantong parkir sementara.

“Kami akan memulai untuk menyiapkan tempat-tempat itu. Tempat-tempat yang sebelumnya mungkin tidak produktif, akan kami ubah menjadi produktif. Contohnya (Terminal) Giwangan, itu kan selama ini lahan tidur. Ya, Giwangan itu lahan tidur,” ujarnya.

Baca juga: Pembongkaran Parkir ABA Dekat Malioboro, Sri Sultan HB X Minta Juru Parkir Diopeni

Menurut Hasto, Pemkot juga melihat potensi di lokasi lain untuk dimanfaatkan, seperti di kawasan Pasar Satwa dan Tanaman Hias Kota Yogyakarta (PASTY) sebelah barat yang juga dinilai sebagai lahan tidur.

“Masih banyak lahan-lahan potensial yang bisa kita kembangkan, tempatnya strategis. Di Giwangan juga ada ruko-ruko kosong yang kondisinya masih bagus. Itu ruko tidur juga, karena kosong tapi saya cek masih bagus,” lanjutnya.

Ia menambahkan bahwa dalam penataan ini, Pemkot tidak hanya fokus pada urusan parkir, tetapi juga ingin menciptakan kawasan terpadu yang strategis serta membuka lapangan pekerjaan baru.

“Nanti akan ada semacam shuttle yang menghubungkan antara Giwangan, Taman Budaya, Bonbin (Kebun Binatang), sampai Malioboro. Itu satu kawasan strategis yang bisa dikembangkan. Termasuk Kotagede, ya, itu menjadi kawasan tersendiri. Bersentral di selatan, supaya orang tidak hanya berkiblat ke Malioboro saja. Lebih baik ada kiblat baru. Kota Gede bisa menjadi kota lama,” kata Hasto.

Ia bahkan menyebutkan bahwa konsep “kota lama” bisa menjadi ikon baru bagi Yogyakarta.

“Semarang bikin kota lama, kenapa Jogja nggak? Kota lamanya Kota Yogya ya Kotagede.Jadi nanti ada kota lama, terminal Giwangan, Taman Budaya, Bonbin, itu jadi satu kawasan,” tambahnya.

Ketika ditanya soal penataan pedagang, Hasto menjelaskan bahwa hal tersebut berada di bawah koordinasi Pemerintah Provinsi DIY, namun Pemkot tetap akan memberikan dukungan.

“Soal pedagang, itu beda. Karena sudah ada perencanaan dari Sekda Provinsi untuk menata pedagang. Saya kira itu sudah disiapkan. Mungkin kami men-support apapun yang dikehendaki Ngarsa Dalem. Kami ikut, ikut arahan Ngarsa Dalem untuk memanusiakan manusia. Tugas kita ya itu, punya empati,” tegasnya.

Terkait pemanfaatan lahan setelah relokasi Parkir Abu Bakar Ali, Hasto menyatakan bahwa pihaknya masih menunggu arahan lanjutan karena kepemilikan tanah bukan berada di bawah kewenangan Pemkot.

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved