Penghapusan Kuota Impor

Kuota Impor Dihapus, Petani Sleman Kecewa, Khawatir Dirugikan

Kebijakan keran impor tanpa kuota ini dinilai merugikan peternak maupun petani lokal, yang saat ini sedang bersemangat menunaikan program swasembada. 

|
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
Tribun jogja / Ahmad Syarifudin
RUGIKAN PETANI: Ilustrasi petani di Sleman. Presiden Prabowo Subianto memberi instruksi untuk menghapus kuota impor komoditas yang menyangkut hajat hidup banyak orang. Kebijakan itu membuat petani di Sleman khawatir karena akan merugikan mereka. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Presiden Prabowo Subianto memberi instruksi untuk menghapus kuota impor terhadap komoditas yang menyangkut hajat hidup banyak orang, satu di antaranya adalah daging. 

Kepala Negara juga meminta peluang impor dibuka untuk siapa pun.

Kebijakan keran impor tanpa kuota ini dinilai merugikan peternak maupun petani lokal, yang saat ini sedang bersemangat menunaikan program swasembada. 

Ketua Forum Petani Kalasan, Sleman, DI Yogyakarta, Janu Riyanto menilai langkah ini bakal merugikan petani dan peternak.

Sebab, menurut dia, para petani lokal sedang semangat semangatnya untuk mensukseskan program swasembada pangan.

Akan tetapi keran impor untuk komoditas hajat hidup orang banyak, oleh pemerintah, justru akan dibuka lebar tanpa kuota.

Produk hajat hidup orang banyak ini, tidak menutup kemungkinan menyasar produk pertanian seperti beras. 

"(Kebijakan) itu sebenarnya kedepan, kami nilai juga merugikan petani dan peternak. Karena apa, kita sedang semangat semangatnya swasembada. Nah dengan nanti digelontori (produk) impor dari luar, tentunya kami petani akan menangis," kata Janu, Rabu (9/4/2025). 

Atas dasar itu, pihaknya mengaku tidak setuju dengan kebijakan tersebut.

Menurut Janu, jika keran impor akhirnya dibuka lebar dan produk petani lokal harus bersaing dengan kualitas produk dari luar negeri maka petani lokal yang akan kalah. 

Apalagi produk impor dijual dengan harga lebih murah dibanding pasaran, tentu berdampak terhadap penurunan harga jual dari produk petani lokal.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tirto Sembodo Kalasan ini berpandangan, pemerintah seharusnya komitmen membela petani maupun peternak lokal dengan cara tidak membuka keran impor.

Apalagi mereka sekarang sedang berjuang agar dapat memenuhi target swasembada dengan senang hati. 

"Jika (kebijakannya) seperti ini kami jadi bingung, katanya mau swasembada tapi kok kebijakannya akan ada penggelontoran produk impor. Harapan saya ditahan dulu. Agar petani dan peternak bisa merasakan bagaimana nikmatnya kalau kita bisa swasembada untuk bersama, untuk bangsa Indonesia," kata dia.(*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved