Hikmah Ramadan 1446 H
Tunjangan Hari Raya dan Tradisi Mudik
Ramadan memiliki makna spiritual dan sosial mesti berjalan secara seimbang dan paralel.
Oleh: Dr Riduwan MAg,Waka PWM DIY-Dosen UAD
TRIBUNJOGJA.COM - Ramadan memiliki makna spiritual dan sosial mesti berjalan secara seimbang dan paralel.
Muslim yang merindukan hadirnya Ramadan menjadi penanda tentang arti pentingnya spiritualitas diri.
Sedangkan relasi sosial Ramadan dengan kehidupan, dapat dilihat dari menggeliatnya aktivitas umat, yang dimulai sejak persiapan menyambut Ramadan sampai dengan perayaan idul fitri.
Tradisi padusan menjelang puasa dan nyadran pada bulan ruwah (sya’ban), pada Muslim Jawa, juga memiliki makna spiritual dan sosial sekaligus.
Ramadan juga merupakan bulan yang penuh pengharapan baik secara spiritual maupun sosial, menuju kehidupan baru yang produktif (muttaqin).
Ketaatan muslim menjalankan puasa (QS.2, 183), merupakan wujud komitmen spiritual, meski ada sebagian yang masih berat melaksanakannya karena faktor pekerjaan.
Terbukanya peluang doa untuk dikabulkan oleh Allah SWT dan dilipatgandakannya pahala ibadah merupakan bukti konkrit, makna spiritualitas Ramadhan. Sedangkan harapan dapat merayakan lebaran di kampung halaman (mudik), bersama keluarga dan handai tulan, silaturahim dan berbagi “angpao” merupakan ekspresi makna sosial dari Ramadan.
Tunjangan Hari Raya
Tunjangan Hari Raya (THR), merupakan pendapatan di luar gaji atau non upah yang wajib dibayarkan oleh perusahaan atau pemberi kerja kepada pekerja menjelang Hari Raya Keagamaan, seperti Idul Fitri, Natal, Nyepi, Waisak dan Imlek.
THR ini bersifat wajib bagi pemberi kerja dan diberikan kepada pekerja sesuai dengan hari raya keagamaan masing-masing, selambatnya tujuh hari sebelumnya, (Permenaker No.6 tahun 2016).
Bagi pekerja muslim, THR akan diterima menjelang perayaan hari kemenangan yakni Idul Fitri.
Harapan mendapatkan THR merupakan sebuah keniscayaan karena pekerja telah bekerja secara maksimal dalam setahun dan memberikan kontribusi yang baik bagi perusahaan pemberi kerja.
Sebaliknya perusahaan telah menerima manfaat ekonomi dalam bentuk kinerja karyawan yang berujung pada peningkatan performa bisnis perusahaan tersebut.
Karenanya, analisis tentang THR harus melihat dalam dua perspektif yakni pekerja dan pemberi kerja.
Dilema pemberian THR biasanya muncul pada perusahaan yang performanya kurang baik atau kondisi keuangannya belum stabil.
Terlebih seperti saat ini, dimana pandemic baru saja usai dan kinerja perusahaan belum sepenuhnya bertumbuh, pemberian THR membutuhkan komitmen tinggi dengan perhitungan yang cermat.
Namun, penting juga untuk diperhatikan bahwa THR akan mampu meningkatkan dedikasi dan loyalitas pegawai yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja perusahaan dimasa mendatang.
Mudik Unik
Tradisi mudik yang unik mungkin hanya terjadi di Indonesia.
Sesuai dengan karakter masyarakatnya yang lekat dengan hubungan sosial, mudik menjadi bukti bahwa harmonisasi sosial keagamaan menjadi kebutuhan.
Kerinduan akan kampung halaman dialami oleh hampir semua lapisan masyarakat tanpa memandang status sosial.
Bagi pegawai yang pekerjaannya jauh dari kampung, mudik tentu saja menjadi mimpi-mimpi atau persisnya doa yang senantiasa dirindukan.
Kegembiraan berhari raya, selain ajaran agama islam, juga sekaligus tradisi yang perlu dikelola dengan baik karena membawa efek ekonomi yang besar.
Karenanya pemerintah perlu mengelola tradisi tersebut dengan profesional. Berbagai fasilitas transportasi darat, laut dan udara perlu dipersiapkan dengan semaksimal mungkin, sehingga prosesi mudik dapat berjalan dengan lancar tanpa harus menelan korban harta apalagi jiwa.
Nilai ekonomi mudik, dapat dianalisis seberapa besar transfer uang yang mengalir ke desa. Hampir bisa dipastikan, jika setiap pemudik akan membawa bekal yang cukup dan menjadi kebanggaan jika mampu menunjukkan keberhasilannya bekerja diluar kampung halaman.
Dalam konteks inilah, THR menemukan nilai pentingnya bagi kehidupan. Meskipun, pekerja telah merencanakan keuangan mudik dengan cermat, tetapi stimulasi ekonomi dari pemberian THR akan semakin meningkatkan semangat mudik dan marwah tersendiri bagi pemudik.
Terjadinya distribusi ekonomi dari kota ke desa tersebut, merupakan wujud nyata efek ekonomi mudik. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/riduan-uad.jpg)