Wisata Pendidikan di DIY Diperkuat, Desa Wisata Siap Tawarkan Pengalaman Edukatif
Dispar DIY akan memastikan bahwa atraksi-atraksi di desa wisata telah memenuhi standar layanan yang optimal.
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinas Pariwisata (Dispar) DIY menekankan pentingnya kesiapan destinasi wisata pendidikan dalam menghadapi kebijakan pelarangan study tour di beberapa daerah.
Salah satu fokus utama adalah pengembangan atraksi edukatif di desa wisata, yang memberikan pengalaman belajar langsung bagi pelajar.
Beberapa aktivitas yang dapat menjadi bagian dari wisata pendidikan ini antara lain menanam padi, berkebun buah, beternak sapi atau kambing, hingga pengamatan burung.
Kegiatan-kegiatan ini dinilai mampu memberikan pemahaman mendalam kepada siswa mengenai proses produksi pangan, keberlanjutan lingkungan, serta keseimbangan ekosistem.
“Kami harus memastikan destinasi-destinasi tersebut siap dengan standar pelayanan yang optimal, sehingga wisatawan, khususnya pelajar, mendapatkan pengalaman yang berkualitas,” ujar Kepala Dispar DIY, Imam Pratandi.
Menurut Imam, desa wisata memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pembelajaran berbasis pengalaman.
Selain mengajarkan keterampilan praktis, interaksi langsung dengan alam dan masyarakat setempat juga dapat menumbuhkan rasa kepedulian serta meningkatkan kesadaran pelajar terhadap budaya dan lingkungan.
Untuk mendukung pengembangan wisata pendidikan ini, Dispar DIY akan memastikan bahwa atraksi-atraksi di desa wisata telah memenuhi standar layanan yang optimal.
Hal ini mencakup kesiapan fasilitas, keterampilan pemandu wisata, hingga penerapan konsep wisata berkelanjutan yang tidak hanya mengedepankan edukasi tetapi juga kenyamanan bagi pengunjung.
Baca juga: Disnakertrans DIY Sudah Buka Posko Aduan THR 2025
Selain itu, promosi wisata pendidikan di desa wisata akan diperkuat dengan menjangkau sekolah-sekolah serta Dinas Pendidikan di berbagai provinsi yang masih mengizinkan study tour.
Dispar DIY juga akan berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), serta Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA).
Dengan berbagai upaya ini, DIY diharapkan semakin dikenal sebagai destinasi utama wisata pendidikan di Indonesia, di mana siswa tidak hanya sekadar berwisata, tetapi juga mendapatkan pengalaman berharga yang memperkaya wawasan mereka. (*)
| KPAI Ungkap Trauma Ekstrem Korban Daycare Little Aresha Jogja: Anak Minta Tali Seusai Dimandikan |
|
|---|
| Menelusuri Pesona Desa Wisata Srikeminut, Obat Penawar Hiruk Pikuk Perkotaan |
|
|---|
| Penyebab Lonjakan Harga Minyak Goreng Premium di Bantul |
|
|---|
| Desentralisasi Akomodasi ke Kawasan Penyangga Jadi Strategi Pemerataan Ekonomi Pariwisata DIY |
|
|---|
| Sekolah Terdampak Tol Jogja–Solo, SD Nglarang Pindah ke Lahan Baru Seluas 4.800 m² |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Eksplor-Pesona-Desa-Wisata-Karangtengah-Surga-Tersembunyi-yang-Jauh-dari-Hiruk-Pikuk-Perkotaan.jpg)