Kelola Sampah MBG, Gunungkidul Siapkan TPS3R Tawarsari

Ia mengatakan dalam proses pengelolaan sampah ini tahapannya dari dapur sehat sudah memilah sampah kemudian dimasukan ke dalam kantung sampah.

Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Yoseph Hary W
Tribunjogja.com/Ahmad Syarifudin
KELOLA SAMPAH MBG: Foto ilustrasi menu Makan Bergizi. Gununkidul siapkan TPS3R Tawarsari untuk kelola sampah MBG. 

Laporan Reporter Tribun Jogja Nanda Sagita Ginting 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL-  Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gunungkidul sudah menyiapkan skema untuk pengelolaan sampah dari dapur sehat program makan bergizi gratis (MBG).

Kepala DLH Gunungkidul Harry Sukmono mengatakan nantinya sampah dari MBG yang berada di dapur sehat akan dikelola oleh TPS3R Tawarsari, Kapanewon Wonosari.

"Kami dengan pihak dapur sehat sudah menyepakati pengelolaan sampah ini. Jauh hari, sebelum program ini berjalan kami sudah melakukan pendampingan mulai dari pemilahan sampah hingga proses pengelolaan sampah yang baik," ujarnya saat dikonfirmasi pada Senin (17/2/2025).

Ia mengatakan dalam proses pengelolaan sampah ini tahapannya dari dapur sehat sudah memilah sampah kemudian dimasukan ke dalam kantung sampah.

Kemudian, sampah akan dikelola di TPS3R Tawarsari dan hasil residu sampahnya akan dibuang ke TPAS Wukirsari. 

"Jadi, untuk pengambilan sampah akan dilakukan setiap hari. Dan, pastinya dikenakan tarif juga sesuai dengan banyaknya sampah yang dihasilkan. Karena, ini baru hari pertama jadi nanti kami masih melakukan pendataan berapa banyak sampah yang dihasilkan," ucapnya.

Dia melanjutkan dalam proses pengelolaan sampah MBG ini, Harry mengatakan pihaknya juga akan melibatkan masyarakat dalam hal ini kelompok peduli lingkungan.

Hal ini sejalan dengan amanat Perda Nomor 14  2020  tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga disertai pemberdayaan masyarakat.

"Jadi, masalah sampah ini akan menjadi tanggung jawab bersama, tidak hanya Pemkab dan dapur sehat saja," ungkap dia.

Selain masyarakat, Harry menambahkan keterlibatan sekolah juga akan didorong dalam mengatasi permasalah sampah sisa makanan program MBG tersebut. Salah satunya akan berkoordinasi dengan sekolah penggiat adiwiyata atau HPAI (himpunan penggiat adiwiyata Indonesia) Kabupaten Gunungkidul

"Kalau yang di sekolah ini kan rentannya makanan sisa yang tidak habis. Jadi, rencana jika ada sisa sampah makan di sekolah bisa diubah menjadi pupuk kompos. Tentunya, nanti akan kami lakukan pendampingan ke sekolah-sekolah dengan melibatkan penggiat Adiwiyata tadi," paparnya.

Sementara di sisi lain, Harry mengaku masih ada kendala terkait terbatasnya jumlah  TPS3R di Gunungkidul. Pasalnya, dicanangkan dapur sehat akan dibangun sebanyak 40 unit di seluruh Kapanewon Gunungkidul.

"Saat ini, kan dapur sehat baru ada di dua lokasi yakni Wonosari dan Tepus. Lokasi ini masih memungkinkan untuk pengelolaannya di TPS3R Tawarsari. Yang kami khawatirkan ketika nanti semua dapur sehat beroperasi terutama yang jauh dari TPS3R, sebab belum semua kapanewon memiliki TPS3R baru ada 21 titik. Ini yang akan kami pertimbangkan apakah akan menggaet bank sampah atau memberdayakan masyarakat setempat," ujarnya.

Sementara itu, Kepala SDN 1 Wonosari Joko Widiyanto mengaku siap jika ada pendampingan terkait pengelolaan sampah sisa makanan  program MBG.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved