Tanpa Karantina Antar Wilayah, DPKP DIY Tingkatkan Pencegahan PMK
Meski kasusnya terus meningkat, langkah-langkah karantina antar wilayah yang membatasi mobilitas ternak belum dapat diterapkan
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menyerang hewan ternak di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Berdasarkan kajian epidemiologi dari Pejabat Otoritas Veteriner (POV) Nasional, situasi kasus PMK di DIY saat ini berstatus tertular, sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor 708 Tahun 2024.
Hal ini berarti, meski kasusnya terus meningkat, langkah-langkah karantina antar wilayah yang membatasi mobilitas ternak belum dapat diterapkan, berbeda dengan wabah PMK pada 2022 lalu.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, Syam Arjayanti, menyatakan bahwa meskipun karantina antar wilayah belum diberlakukan, sejumlah upaya dapat dilakukan untuk menanggulangi penyebaran PMK.
Langkah-langkah tersebut meliputi peningkatan biosekuriti di kandang ternak, pemberian vitamin, percepatan vaksinasi, isolasi hewan ternak yang terinfeksi, serta penutupan sementara pasar hewan saat ditemukan kasus PMK.
Peternak diharapkan tidak panik, karena PMK dapat diobati jika ditemukan sejak dini.
Dalam upaya mengendalikan penyakit ini, Syam menyarankan agar peternak mandiri dalam mengelola vaksinasi ternak mereka.
Setiap peternak diharapkan untuk membeli vaksin secara teratur, dengan harga sekitar Rp 30.000 per dosis yang diberikan dua kali setahun.
Baca juga: PMK Kembali Merebak, Vaksinasi Hewan Ternak di Sleman Digencarkan
Pada bulan Desember 2024, DPKP DIY menerima 50 botol vaksin dari Kementerian Pertanian, cukup untuk 1.250 ekor sapi.
Setiap botol berisi 25 dosis vaksin, yang mana setiap ekor sapi membutuhkan dua dosis dalam setahun.
Namun, meski vaksinasi mulai dilakukan, hingga 15 Januari 2025, total kasus PMK di DIY tercatat mencapai 2.329 ekor ternak yang sakit.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 20 ekor dinyatakan sembuh, 166 ekor mati, dan 53 ekor dipotong paksa.
Saat ini, sisa kasus aktif tercatat sebanyak 2.090 ekor, yang terdiri dari 2.069 ekor sapi, satu kambing, dan 20 domba.
Vaksinasi yang telah dilakukan baru mencakup 1.314 ekor ternak dari total populasi sapi potong yang mencapai 285.060 ekor dan sapi perah sebanyak 2.992 ekor, dengan cakupan vaksinasi mencapai 16 persen dalam enam bulan terakhir.
Distribusi Vaksin untuk Menanggulangi Penularan
Hewan Ternak Mati karena Penyakit Menular, 14 Peternak di Gunungkidul Mendapat Kompensasi |
![]() |
---|
DPP Kulon Progo Terjunkan Tim Selidiki Serangan Hewan Liar pada Ternak di Nanggulan |
![]() |
---|
Sejumlah Hewan Ternak Warga Nanggulan Mati Diduga Akibat Serangan Hewan Liar |
![]() |
---|
Bagaimana Potensi RI Bisa Bebas Penyakit Mulut dan Kuku? Perlu Penguatan Vaksinasi dan Menyeluruh |
![]() |
---|
Penuhi Permintaan Pasar, DKPP Bantul Akan Gencarkan Inseminasi Buatan Terhadap Hewan Ternak |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.