Cerita Peternak Gunungkidul yang Harus Merugi dan Terlilit Utang Imbas Wabah PMK
Kematian hewan ternak itu membuat Suryadi merugi pasalnya hewan ternak dibelinya dengan cara menyicil atau utang dari bank.
Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Sejumlah peternak di Kabupaten Gunungkidul ikut terdampak imbas merebaknya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) sebulan terakhir ini.
Seperti yang dialami Suryadi (50), peternak sapi asal Padukuhan Polaman, Kapanewon Paliyan, Kabupaten Gunungkidul.
Dia kehilangan satu ekor sapi berusia 1 tahun 7 bulan yang mati akibat wabah PMK.
Kematian hewan ternak itu membuat Suryadi merugi pasalnya hewan ternak dibelinya dengan cara menyicil atau utang dari bank.
"Ya, biasanya kan untuk membeli hewan ternak minjam dulu ke bank, untuk pembayaran bisa dicicil. Seharusnya, sapi ini sudah siap jual dan hasil penjualannya bisa untuk menyicil, tapi yang namanya musibah sudah datang," ujarnya saat ditemui di rumahnya, Selasa (7/1/2025).
Suryadi mengatakan saat ini hanya tersisa satu ekor sapi miliknya.
Dia mengaku bisa saja menjual sapi tersebut untuk menutupi utangnya, namun harga sapi saat ini sangat anjlok.
"Ya itu dilema, kalau mau dijual untuk bayar utang ya sama saja. Harga sapi sekarang cuma Rp6juta per ekor, padahal normalnya bisa di angka Rp17 juta per ekor. Makanya ini mencari cara agar bisa menutupi utang yang dari bank tersebut,"paparnya.
Baca juga: Pemkab Gunungkidul Belum Tutup Pasar Hewan di Tengah Penyebaran PMK, Ini Pertimbangannya
Hal serupa juga diungkapkan peternak lain yakni Sakiman (61), dia mengatakan sebanyak 1 ekor sapi miliknya berusia siap panen mati akibat PMK.
"Sama saya juga membeli sapi itu lewat utang juga, dan bayarnya dicicil. Ya, kalau sudah seperti ini mau tidak mau harus mencari cara untuk menutupi utang tadi,"ungkapnya.
Tak hanya itu, Sakiman pun terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk perawatan ternaknya yang lain agar tak terpapar PMK.
"Saya ada dua ekor lagi, Alhamdulillah masih sehat. Makanya ini harus intensifkan perawatan agar tak terpapar PMK. Dan, biaya yang dikeluarkan juga tak murah, karena harus membeli barang-barang tambahan mulai dari disinfektan, jamu sapi, vitamin, hingga obat-obatan yang lain,"tuturnya.
Dirinya pun berharap agar wabah PMK ini bisa segera berakhir dan harga sapi bisa normal kembali.
"Mudahan-mudahan bisa segera teratasi tidak sampai berlarut-larut. Harapannya bisa segera normal kembali," tandasnya. (*)
| Sultan Minta Pemkab Gunungkidul Kembangkan Kawasan Utara dan Timur, Jangan Fokus di Pesisir Selatan |
|
|---|
| Pesan Sri Sultan HB X saat Menghadiri Silaturahmi Idulfitri Bersama Masyarakat Gunungkidul |
|
|---|
| Kasus Kematian Akibat Leptospirosis di Gunungkidul Naik 500 Persen di Awal 2026 Ini |
|
|---|
| El Nino Mengancam, Kerentanan Lahan Pertanian di Gunungkidul Jadi Atensi Utama DIY |
|
|---|
| Lima Tambang Ilegal di Gunungkidul Ditutup Polisi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Sakiman-61-peternak-sapi-di-Gunungkidul.jpg)