Di Usia Senja, Mbah Sihono Terus Merangkai Kalung Rosario

Mbah Sihono, 70 tahun, kini menjadi satu-satunya pengrajin kalung rosario yang tersisa di Kota Yogyakarta

Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM/ HANIF SURYO
Mbah Sihono, pengrajin kalung rosario. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di balik deru mesin tua dan tumpukan kayu yang berserakan, seorang pria lanjut usia tetap tekun melanjutkan pekerjaan yang telah membesarkan keluarganya selama lebih dari lima dekade. 

Mbah Sihono, 70 tahun, kini menjadi satu-satunya pengrajin kalung rosario yang tersisa di Kota Yogyakarta. Usaha kerajinan rohani ini perlahan memudar seiring bertambahnya usia dan berkurangnya tenaga.

Meski masa kejayaannya telah berlalu, di usia senjanya, ia terus berusaha mempertahankan warisan kerajinan yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya.

Ruang kerjanya tak lebih dari 2x4 meter. Beberapa mesin pengolah kayu, seperti mesin bubut, pemotong, dan penghalus kayu, memenuhi ruang yang dipenuhi serbuk kayu. 

Lantai tanah yang belum disemen terlihat kotor dengan serpihan kayu yang berserakan, bahkan ada yang menempel pada batu bata merah dan jaring laba-laba yang sudah usang. 

"Beginilah ruang produksi saya. Walaupun tidak semua mesin terpakai, tapi itu usianya puluhan tahun lho," ungkap Mbah Sihono.

Di meja kerjanya, tumpukan kalung rosario yang belum selesai dirakit terlihat berserakan. Ada yang besar, ada pula yang kecil, lengkap dengan gantungan salibnya. Inilah hasil karya Mbah Sihono yang sejak muda telah menjadi sumber penghidupannya.

“Sudah sekitar 50 tahun saya membuat kalung rosario ini. Memulainya saat saya masih berumur 20 tahun,” kenangnya, sembari hati-hati merangkai salib kayu. 

Baca juga: Sambangi Sejumlah Gereja, Pj Wali Kota Yogya Pastikan Perayaan Natal 2024 Kondusif

Dengan bantuan kaca mata, ia memeriksa setiap lekukan kayu yang ia bentuk dengan penuh ketelitian. 

“Sekarang ya, semampunya. Dulu saya bisa ditemani istri dan tenaga kerja, sekarang saya sendiri,” tambahnya, sambil menghela napas.

Istrinya, Kurul Basdosati, yang selama ini mendampinginya bekerja, telah meninggal dunia dua tahun lalu. 

Sedangkan para tenaga kerja yang dulu membantunya kini telah memilih bekerja di tempat lain. 

“Anak-anak juga memilih bekerja di luar dan tidak ada yang tertarik meneruskan usaha ini. Mau bayar tenaga sekarang juga tidak mampu,” ujarnya mengenang masa lalu saat usaha ini sedang berada di puncak kejayaannya.

Di masa kejayaannya, Mbah Sihono mampu memproduksi ribuan kalung rosario dalam sepekan.

Pelanggannya datang dari berbagai kota besar seperti Magelang, Surabaya, Kendari, Makassar, Medan, Kalimantan, hingga Jakarta. Tidak hanya gereja-gereja, tetapi juga para pedagang yang biasa kulakan kalung rosario di tempatnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved