Warga di Lereng Merapi Buat Ratusan Biopori untuk Konservasi Air dan Cegah Kerusakan Lingkungan
Gerakan pembuatan biopori ini telah dimulai di Kaliurang Timur, Hargobinangun, Kabupaten Sleman
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Perubahan pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat, tidak terlepas dengan kebutuhan air.
Selain kebutuhan air yang semakin meningkat, produksi sampah yang dihasilkan juga semakin tinggi.
Semakin tinggi produksi sampah setiap harinya, ditambah pengelolaan sampah yang minim dapat menyebabkan penumpukan dan bermuara pada pencemaran lingkungan.
Menyikapi hal itu, maka upaya konservasi perlu digalakkan. Satu di antara upaya yang bisa dilakukan adalah membuat biopori.
Gerakan pembuatan biopori ini telah dimulai di Kaliurang Timur, Hargobinangun, Kabupaten Sleman. Kaliurang sengaja dipilih karena merupakan daerah resapan yang memiliki peran besar bagi kebutuhan air di Yogyakarta.
Dukuh Kaliurang Timur Anggara Daniawan mengatakan, gerakan pembuatan biopori di wilayahnya digagas Yayasan Javlec Indonesia yang didukung Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO).
Gerakan ini, menargetkan 300 biopori dan pelaksanaannya dilakukan secara seremonial dengan pemasangan beberapa titik biopori di demplot konservasi dan pengelolaan sampah Padukuhan Kaliurang Timur.
"Gerakan biopori merupakan salah satu wujud kepedulian masyarakat terhadap lingkungan terutama terkait permasalahan air dan sampah," kata Angga, melalui keterangannya kepada Tribun Jogja, Selasa (19/11/2024).
Campaign pembuatan biopori ini juga diikuti sejumlah pihak, di antaranya dari Pusat Standardisasi Instrumen Ketahanan Bencana dan Perubahan Iklim (Pustandpi) KLHK; Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWS SO); Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Serayu Opak Progo (BPDAS SOP).
Lalu Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Daerah Istimewa Yogyakarta (DLHK DIY); Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman; Panewu Pakem; Lurah Hargobinangun; masyarakat Padukuhan Kaliurang Timur, dan Sarihusada Generasi Mahardhika (SGM).
Baca juga: Dinas Perpustakaan dan Kearsiapan Bantul Bakal Punya Gedung Baru di Awal Tahun
Keterlibatan para pihak pada kegiatan campaign ini diharapkan dapat menjadi dorongan kepada warga sebagai wujud kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan.
Pembuatan biopori menjadi salah satu alternatif lain dalam upaya menjaga ketahanan air dan sampah. Sebab, lubang biopori memiliki manfaat untuk mengelola sampah organik dengan cara mengurai sampah organik dan menambah supply bahan organik pada tanah.
"Biopori dapat dibuat di setiap pekarangan rumah karena tidak membutuhkan tempat yang luas. Dengan adanya biopori maka masyarakat dapat mengelola sampah organik yang dihasilkan dalam skala rumah tangga. Hal ini dapat meminimalisir sampah yang dibuang ke TPS," katanya.
Biopori juga memiliki manfaat lain seperti mencegah genangan air di permukaan tanah. Melalui lubang biopori maka akan memudahkan air untuk masuk ke dalam tanah dan meminimalisir aliran permukaan.
Apalagi daerah Kaliurang merupakan daerah imbuhan yang mana memiliki peran besar dalam memasukkan air sebanyak-banyaknya ke dalam tanah sehingga keseimbangan kadar air dalam tanah dapat terjaga.
Mengangkat Potensi Lereng Merapi, Pentingsari Jadi Inspirasi Desa Wisata Berkelanjutan |
![]() |
---|
AJWLM Berangkat ke Bandung, Minta Pemprov Jabar Cabut Larangan Study Tour |
![]() |
---|
8000 ASN dan Pamong di Bantul Akan Jadi Pelopor Pembuat Biopori |
![]() |
---|
Akses Air Bersih dan Sekolah Sehat untuk Warga Lereng Merapi |
![]() |
---|
Sri Sultan HB X Hadiri Panen Perdana Kopi Lereng Merapi, Taru Martani Siap Serap dan Pasarkan |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.