Pranata Mangsa, Warisan Budaya Jawa yang Menuntun Petani Menyikapi Alam

Pranata Mangsa, sebuah sistem kalender pertanian berbasis peredaran matahari, telah lama menjadi pedoman hidup masyarakat Jawa dalam bertani

Tayang:
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
Dok Humas Pemda DIY
Seorang nenek berusia 74 tahun, Wasinem, menunjukkan Papan Sangatan yang telah diwariskan turun-temurun di keluarganya. 

Wasinem, yang juga seorang petani, mengaku bahwa meskipun bentuk fisik Papan Sangatan ini tampak sederhana, alat ini memiliki fungsi yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari para petani.

"Papan ini tidak hanya digunakan untuk menghitung waktu tanam, tetapi juga untuk memilih waktu yang tepat dalam segala hal yang terkait dengan alam," ungkapnya.

Keistimewaan Papan Sangatan milik Wasinem adalah kemampuannya memilih siapa yang bisa menggunakan alat ini.

“Percaya atau tidak, hanya saya yang bisa menggunakannya. Anak-anak saya tidak bisa. Saya menjaga dan merawat papan ini dengan baik, dan hanya digunakan untuk tujuan yang baik pula,” tambahnya.

Meskipun bentuknya tidak sempurna, keempat sudutnya tidak siku dan tidak begitu presisi, Papan Sangatan tetap memiliki nilai yang sangat tinggi bagi Wasinem.

Ia merawatnya dengan penuh rasa hormat sebagai salah satu warisan budaya yang sangat berharga.

"Ini adalah warisan yang harus dijaga. Meskipun langka, saya berharap Papan Sangatan ini bisa dilestarikan, tidak hanya sebagai benda, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya Jawa," tutup Wasinem.

Pranata Mangsa dan Papan Sangatan adalah simbol dari ketangguhan dan kebijaksanaan petani Jawa dalam membaca alam.

Kearifan lokal ini mengingatkan kita bahwa meskipun teknologi terus berkembang, ada nilai-nilai lama yang tetap relevan dan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. (HAN)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved