Pranata Mangsa, Warisan Budaya Jawa yang Menuntun Petani Menyikapi Alam
Pranata Mangsa, sebuah sistem kalender pertanian berbasis peredaran matahari, telah lama menjadi pedoman hidup masyarakat Jawa dalam bertani
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi pertanian, ada sebuah kearifan lokal yang telah ada jauh sebelum mesin dan alat modern digunakan oleh petani. '
Pranata Mangsa, sebuah sistem kalender pertanian berbasis peredaran matahari, telah lama menjadi pedoman hidup masyarakat Jawa dalam bertani.
Sistem yang telah diwariskan secara turun-temurun ini tidak hanya mengajarkan tentang waktu, tetapi juga tentang bagaimana petani harus peka terhadap perubahan alam.
Berawal dari pemahaman mendalam tentang musim dan alam, Pranata Mangsa membagi tahun menjadi 12 musim atau "mangsa".
Setiap mangsa ini berhubungan dengan aktivitas pertanian yang harus dilakukan pada waktu tertentu, yang disesuaikan dengan perubahan alam dan peredaran matahari.
Kearifan ini tercermin dalam ajaran kitab Arjunawiwaha, yang menggambarkan bagaimana sistem pertanian pada masa Majapahit sangat maju berkat pemahaman yang dalam tentang alam.
Namun, di balik kesederhanaannya, sistem Pranata Mangsa memiliki kedalaman makna.
Papan Sangatan, sebuah alat yang digunakan untuk menghitung waktu dan musim dalam Pranata Mangsa, menjadi salah satu benda warisan budaya yang sangat langka.
Bentuknya yang sederhana, namun fungsinya yang sangat vital dalam dunia pertanian tradisional Jawa, menjadikan Papan Sangatan sebagai benda yang patut dilestarikan.
Baca juga: BREAKING NEWS: Pelaku UMKM Gelar Aksi di DPRD DIY, Tuntut Penghapusan Hutang Segera Direalisasikan
Di Desa Temuwuh, Kapanewon Dlinggo, Bantul, seorang nenek berusia 74 tahun, Wasinem, dengan bangga menunjukkan Papan Sangatan yang telah diwariskan turun-temurun di keluarganya.
Papan kayu persegi panjang ini, yang memiliki pegangan di salah satu sisi, terukir dengan berbagai simbol dan tanda yang digunakan untuk menghitung wuku, sebuah sistem perhitungan waktu dalam kalender Jawa.
"Papan ini sudah turun-temurun sejak kakek saya. Saya sendiri tidak tahu asal-usulnya, tapi saya mempelajari cara menggunakannya dari suami yang meneruskan ilmu dari kakek. Setelah beliau tidak lagi melanjutkan, saya yang menggantikan," kata Wasinem.
Papan Sangatan milik Wasinem terbuat dari dua jenis kayu Jati Gembol untuk papan besar dan Galih Asem untuk papan kecil.
Kedua papan ini memiliki pahatan berbentuk kotak-kotak yang tersusun rapi, di mana setiap kotak dihiasi dengan berbagai tanda seperti titik, garis miring, dan silang.
Semua tanda ini memiliki makna tersendiri dalam menghitung waktu dan menentukan musim yang tepat untuk berbagai kegiatan pertanian.
| Gamelan di FIB UGM Digondol Maling, Kerugian Sekitar Rp 12,5 Juta |
|
|---|
| Modus Tanya Alamat KKN Ujung-ujungnya 'Njambret', Komplotan Curas Lintas Daerah Dibekuk Polisi |
|
|---|
| Tiket dan Jadwal KRL Jogja Solo Hari Sabtu 18 April 2026 dari St. Tugu |
|
|---|
| Jadwal dan Waktu Salat DIY Sleman Jogja Bantul Hari Sabtu 18 April 2026 |
|
|---|
| Kata Van Gastel Usai PSIM Yogyakarta Kalah dari Bhayangkara FC: Kekalahan yang Tidak Perlu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Pranata-Mangsa-Warisan-Budaya-Jawa-yang-Menuntun-Petani-Menyikapi-Alam.jpg)