Pranata Mangsa, Warisan Budaya Jawa yang Menuntun Petani Menyikapi Alam

Pranata Mangsa, sebuah sistem kalender pertanian berbasis peredaran matahari, telah lama menjadi pedoman hidup masyarakat Jawa dalam bertani

Tayang:
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
Dok Humas Pemda DIY
Seorang nenek berusia 74 tahun, Wasinem, menunjukkan Papan Sangatan yang telah diwariskan turun-temurun di keluarganya. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi pertanian, ada sebuah kearifan lokal yang telah ada jauh sebelum mesin dan alat modern digunakan oleh petani. '

Pranata Mangsa, sebuah sistem kalender pertanian berbasis peredaran matahari, telah lama menjadi pedoman hidup masyarakat Jawa dalam bertani.

 Sistem yang telah diwariskan secara turun-temurun ini tidak hanya mengajarkan tentang waktu, tetapi juga tentang bagaimana petani harus peka terhadap perubahan alam.

Berawal dari pemahaman mendalam tentang musim dan alam, Pranata Mangsa membagi tahun menjadi 12 musim atau "mangsa".

Setiap mangsa ini berhubungan dengan aktivitas pertanian yang harus dilakukan pada waktu tertentu, yang disesuaikan dengan perubahan alam dan peredaran matahari.

Kearifan ini tercermin dalam ajaran kitab Arjunawiwaha, yang menggambarkan bagaimana sistem pertanian pada masa Majapahit sangat maju berkat pemahaman yang dalam tentang alam.

Namun, di balik kesederhanaannya, sistem Pranata Mangsa memiliki kedalaman makna.

Papan Sangatan, sebuah alat yang digunakan untuk menghitung waktu dan musim dalam Pranata Mangsa, menjadi salah satu benda warisan budaya yang sangat langka.

Bentuknya yang sederhana, namun fungsinya yang sangat vital dalam dunia pertanian tradisional Jawa, menjadikan Papan Sangatan sebagai benda yang patut dilestarikan.

Baca juga: BREAKING NEWS: Pelaku UMKM Gelar Aksi di DPRD DIY, Tuntut Penghapusan Hutang Segera Direalisasikan

Di Desa Temuwuh, Kapanewon Dlinggo, Bantul, seorang nenek berusia 74 tahun, Wasinem, dengan bangga menunjukkan Papan Sangatan yang telah diwariskan turun-temurun di keluarganya.

 Papan kayu persegi panjang ini, yang memiliki pegangan di salah satu sisi, terukir dengan berbagai simbol dan tanda yang digunakan untuk menghitung wuku, sebuah sistem perhitungan waktu dalam kalender Jawa.

"Papan ini sudah turun-temurun sejak kakek saya. Saya sendiri tidak tahu asal-usulnya, tapi saya mempelajari cara menggunakannya dari suami yang meneruskan ilmu dari kakek. Setelah beliau tidak lagi melanjutkan, saya yang menggantikan," kata Wasinem.

Papan Sangatan milik Wasinem terbuat dari dua jenis kayu Jati Gembol untuk papan besar dan Galih Asem untuk papan kecil. 

Kedua papan ini memiliki pahatan berbentuk kotak-kotak yang tersusun rapi, di mana setiap kotak dihiasi dengan berbagai tanda seperti titik, garis miring, dan silang.

 Semua tanda ini memiliki makna tersendiri dalam menghitung waktu dan menentukan musim yang tepat untuk berbagai kegiatan pertanian.

Wasinem, yang juga seorang petani, mengaku bahwa meskipun bentuk fisik Papan Sangatan ini tampak sederhana, alat ini memiliki fungsi yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari para petani.

"Papan ini tidak hanya digunakan untuk menghitung waktu tanam, tetapi juga untuk memilih waktu yang tepat dalam segala hal yang terkait dengan alam," ungkapnya.

Keistimewaan Papan Sangatan milik Wasinem adalah kemampuannya memilih siapa yang bisa menggunakan alat ini.

“Percaya atau tidak, hanya saya yang bisa menggunakannya. Anak-anak saya tidak bisa. Saya menjaga dan merawat papan ini dengan baik, dan hanya digunakan untuk tujuan yang baik pula,” tambahnya.

Meskipun bentuknya tidak sempurna, keempat sudutnya tidak siku dan tidak begitu presisi, Papan Sangatan tetap memiliki nilai yang sangat tinggi bagi Wasinem.

Ia merawatnya dengan penuh rasa hormat sebagai salah satu warisan budaya yang sangat berharga.

"Ini adalah warisan yang harus dijaga. Meskipun langka, saya berharap Papan Sangatan ini bisa dilestarikan, tidak hanya sebagai benda, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya Jawa," tutup Wasinem.

Pranata Mangsa dan Papan Sangatan adalah simbol dari ketangguhan dan kebijaksanaan petani Jawa dalam membaca alam.

Kearifan lokal ini mengingatkan kita bahwa meskipun teknologi terus berkembang, ada nilai-nilai lama yang tetap relevan dan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. (HAN)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved