Armada Penyeberangan di IKN Didorong Ramah Lingkungan, Ini Respons Gapasdap
Upaya tersebut harus dilakukan dengan armada berbasis bahan bakar terbarukan, selaras visi IKN sebagai kota cerdas dan ramah lingkungan.
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI mendorong industri penyeberangan untuk ikut ambil bagian dalam proses pembukaan lintasan di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Dorongan terebut, disampaikan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub RI, Irjen Pol Risyapudin Nursin, saat menghadiri Rakernas Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) di Yogyakarta, Rabu (11/9/2024).
Ia tidak memungkiri, ketersediaan moda transportasi angkutan sungai, danau dan penyeberangan sangat dibutuhkan untuk menunjang segala aktivitas di kawasan pusat pemerintahan itu.
Meski demikian, upaya tersebut harus dilakukan dengan armada berbasis bahan bakar terbarukan, selaras visi IKN sebagai kota cerdas dan ramah lingkungan.
"Selain berbasis elektronik untuk kendaraan darat, penyeberangan juga harus memberikan kontribusi akses. Maka, kami berharap, dari Gapasdap bisa hadir segera untuk melakukan program-program di tahun 2025," tandasnya.
Merespons hal tersebut, Ketua Umum Gapasdap, Khoiri Soetomo, menyatakan, bahwa pihaknya sudah memetakan beberapa opsi armada ramah lingkungan untuk digunakan di IKN.
Baca juga: Sampah di Depo Kotabaru Meluber Sampai Jalanan, DLH Kota Yogya: Segera Dieksekusi
Yang pertama teknologi berbasis electric power, yang dewasa ini sudah akrab digunakan di beberapa negara Eropa Utara, di mana kapal-kapal penyeberangan tidak lagi menggunakan bahan bakar fosil.
"Tapi, pemerintah harus menyiapkan infrastruktur terlebih dahulu, sebelum kapal penyeberangan ramah lingkungan itu kita operasikan," cetus Khoiri.
"Jadi, rasanya itu masih terlalu jauh, karena kita tahu, untuk membangun infrastruktur seperti yang ada di Norwegia, misalnya, itu tidak murah," urainya.
Kemudian, dalam upaya pengadaan kapal-kapal penyeberangan bertenaga listrik, kalangan industri pun harus mendatangkannya dari negara-negara yang terbilang jauh dan butuh biaya mahal.
Sehingga, yang paling memungkinkan untuk direalisasikan adalah menggunakan kapal-kapal berbasis energi alam, dari bahan bakar gas.
"Itu mungkin, karena beberapa kapal kami bisa dilakukan konversi secara teknis. Kapal yang selama ini pakai bahan bakar solar, itu bisa dikonversi ke bahan bakar gas," jelasnya.
Lebih lanjut, Khoiri menyatakan, proses pembukaan lintasan di IKN memang penting dan harus diambil sikap dalam waktu dekat.
Namun, yang tidak kalah penting adalah bagaimana pemerintah bisa membangun sebuah konektivitas yang menyeluruh, sehingga 17 ribu lebih pulau di tanah air benar-benar terhubung.
"Makanya, butuh penyeberangan dengan kecukupan dermaga, dengan kapasitas dan kualitas memadahi. Harapan kami, hal tersebut bisa dilakukan oleh pemerintahan baru," ujarnya. (*)
Sering Buang Sisa Makanan? Yuk Ubah Kebiasaan dengan Cara Simpel Ini |
![]() |
---|
Kemenhub Tetapkan Potongan Aplikator untuk Driver Ojol Maksimal 15 Persen, Ini Respons JogjaKita |
![]() |
---|
Mungkinkah Pembalut Menstruasi Bisa Ramah Lingkungan? Ini Faktanya |
![]() |
---|
Biofuel: Jembatan Menuju BBM Ramah Lingkungan dan Ekonomi Berkelanjutan |
![]() |
---|
Politisi Gerindra Danang Wicaksana Desak Kemenhub Segera Jalankan Instruksi Presiden, Mengapa? |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.