Berita Kesehatan
Mungkinkah Pembalut Menstruasi Bisa Ramah Lingkungan? Ini Faktanya
Tapi kini, muncul inovasi baru yang mencoba menjawab tantangan ini: pembalut ramah lingkungan. Ini fakta yang perlu kamu tahu
Penulis: Bunga Kartikasari | Editor: Bunga Kartikasari
TRIBUNJOGJA.COM - Selama ini, pembalut menstruasi identik dengan kenyamanan dan perlindungan, tapi jarang dibicarakan dari sisi dampaknya terhadap lingkungan.
Padahal, sebagian besar pembalut konvensional mengandung plastik dan bahan turunan minyak bumi yang sulit terurai.
Tapi kini, muncul inovasi baru yang mencoba menjawab tantangan ini: pembalut ramah lingkungan. Apakah benar bisa seefektif pembalut biasa, tapi tetap baik untuk bumi?
Ini fakta yang perlu kamu tahu:
1. Ada produk ramah lingkungan dan lembut di kulit
PT Uni-Charm Indonesia Tbk (Unicharm) resmi meluncurkan produk terbarunya: CHARM Daun Sirih Bio Materials Organic Cotton Type dengan ukuran 23 cm dan 29 cm. Apa yang membuatnya spesial?
Produk itu terbuat dair 100 persen bio material dan organic cotton yang lebih ramah lingkungan dan lembut di kulit.
Produk ini jadi yang pertama dalam grup Unicharm yang seluruh bagiannya menggunakan bio material, mulai dari ampas tebu, batu kapur, botanical oil, hingga resin alami.
2. Produk memakai material hasil daur ulang
Ketiga, kemasan dan kardusnya dirancang ramah lingkungan. Produk ini tidak menggunakan plastik dari virgin oil, melainkan hanya memakai material hasil daur ulang dan biomassa.
Kardus pembungkusnya pun terbuat dari Empty Fruit Bunch (EFB), yaitu limbah tandan kosong dari produksi minyak sawit.
Baca juga: Ini Alternatif Pembalut Wanita Ramah Lingkungan, Bisa Kurangi Sampah dan Lebih Hemat Uang
Dalam inisiatif ini, Unicharm bekerja sama dengan PT Oji Sinarmas Packaging untuk pertama kalinya mengembangkan karton berbahan dasar EFB.
Tak hanya itu, selotip yang digunakan juga berbahan daur ulang, sehingga membantu menghemat sumber daya dan mengurangi limbah secara keseluruhan.
3. Kurangi jejak karbon hingga 18 persen
Unicharm juga melakukan perhitungan carbon footprint dan hasilnya luar biasa: produk ini mampu mengurangi emisi karbon hingga 18 % dibandingkan produk biasa, terutama pada tahap pengadaan bahan baku.
Carbon footprint atau jejak karbon adalah suatu sistem yang mengubah dan menampilkan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan sepanjang siklus hidup suatu produk atau layanan, dari pengadaan bahan mentah hingga pembuangan dan daur ulang, menjadi emisi CO2.
( Tribunjogja.com / Bunga Kartikasari )
| 24 Kebiasaan Ini Bisa Jadi Alarm Awal Gangguan Mental, Jangan Disepelekan Meski Kelihatannya Wajar |
|
|---|
| Capek Selalu Disalahin Orang Tua? Begini Dampaknya Saat Hubungan dengan Orang Tua Jadi Toxic |
|
|---|
| Apa Itu Cesium-137? Ancaman Radioaktif yang Bisa Masuk Lewat Makanan |
|
|---|
| 6 Manfaat Makan Pisang di Malam Hari, Benarkah Bisa Membantu Diet? |
|
|---|
| 6 Manfaat Gokil Minum Kopi Hitam di Pagi Hari, Nomor 4 Diam-diam Ampuh! |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Ilustrasi-Pembalut.jpg)