Kontroversi Chattra Candi Borobudur

Chattra Sudah Dibongkar, Hari Ini Ada Rapat Khusus di Jakarta

Pada Kamis 5 September 2024, chattra itu masih terpasang di tempatnya sejak 2019, sesudah dipindahkan dari Museum Karmawibhangga.

Tayang:
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
HO/TRIBUN JOGJA
Chattra Borobudur hasil rekonstruksi Theodore van Erp sudah tidak berada di dudukan lokasinya di halaman Balai Konservasi Borobudur. Chattra itu dibongkar untuk dipasang di stupa induk Candi Borobudur pada 18 September 2024. 

Di situs Kemenag RI pada 22 Februari 2024 dipublikasikan hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrebang) Tingkat Nasional 2024 Direktorat Bimbingan Masyarakat Buddha di Jakarta.

Disebutkan di artikel itu sejumlah akademisi dan pemerhati candi mendorong agar pemasangan chattra atau payung di puncak Candi Borobudur segera diwujudkan.

Mereka menilai kehadiran chattra diyakini akan memberikan banyak dampak positif bagi umat Buddha, baik di Indonesia maupun dunia.

Chattra mengandung banyak makna filosofis yang sangat mendalam melebihi aspek kesejarahan dan arkeologis.

Hadir dalam diskusi tentang chattra ini antara lain Stanley Khu, dosen Antropologi Universitas Diponegoro Semarang, Prawirawara Jayawardhana (Pemerhati Buddhis Nusantara) dan Hendrick Tanuwijaya (pemerhati Candi Borobudur).

Stanley Khu berpandangan sekarang sudah tiba waktunya untuk memahami Candi Borobudur tidak hanya sebagai candi dalam konteks historis atau arkeologis.

Chattra menurut Stanley Khu berpotensi untuk secara simbolik mewakili imajinasi kolektif umat Buddhis tentang ruang sakral mereka.

"Patut diingat bahwa dalam tradisi keagamaan manapun, ruang sakral berikut ornamen-ornamen pelengkapnya sebagai aspirasi umat serta bangkitnya kesadaran dan kepedulian pemuda-pemudi Buddhis di Indonesia terhadap isu chattra dan kemungkinan pemasangannya di stupa Borobudur dapat dibaca sebagai kebutuhan mendasar umat beragama untuk membayangkan sebuah cara hidup ideal yang bajik dan bermakna, baik bagi diri mereka maupun pihak lain, " terangnya.

Sementara menurut Prawirawara Jayawardhana, chattra memiliki catatan sejarah dan dasar filosofi yang sangat jelas serta mendalam di dalam Buddhisme. Keutamaan itu terbukti baik menurut tradisi teks Pali maupun Sanskrit, maupun Sutrayana dan Tantrayana.

“Konsep payung sebagai pelindung bagi makhluk-makhluk suci, bisa ditemukan antara lain mulai dari Mucalindasuttam, hingga Lalitawistara Sutra, Gandawyuha Sutra, Karmawibhangga Sutra, Jatakamala hingga berbagai kisah di dalam Awadana. Dan kebetulan sekali pula, Candi Borobudur menyimpan catatan atas sutra-sutra tersebut dalam bentuk ukiran-ukiran relief di dindingnya,” terang Prawirawara.

Dia menyoroti selama ini, polemik pemasangan chattra hanya dibahas dari satu sisi keilmuan arkeologi.

Menurut dia, sudah saatnya jawaban atas polemik ini juga dicari dari sisi filosofis Buddhisme itu sendiri karena pada dasarnya Candi Borobudur itu adalah dibangun berdasarkan filosofi Buddhisme.

Sedangkan penulis buku Hendrick Tanuwijaya menyampaikan chattra adalah simbol dari 'cakrawatin' atau pemimpin yang bisa menyejahterakan rakyatnya secara duniawi dan spiritual.

Menurut dia, kalau chattra terpasang maka akan menjadi spirit kuat dalam rangka menyongsong Indonesia Emas 2045.

"Kita akan menjadi anak muda emas dalam istilah Buddhis kita sebut Cakrawatin Emas menuju kejayaan," ujarnya.

Dengan menaikkan chattra di Candi Borobudur, tandas Hendrick, sejatinya menjadi simbol tekad umat untuk mencapai cita-cita Indonesia emas.

Dengan dipasangnya chattra melambangkan Borobudur kembali bukan monumen mati namun monumen hidup yang bisa digunakan dan juga sebagai pusat peradaban.(Tribunjogja.com/Setya Krisna Sumarga)

 

 

 

 

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved