Kontroversi Chattra Candi Borobudur
Tim BRIN Persiapan Pasang Chattra di Stupa Puncak Borobudur
Wiwit Kasiyati, mengatakan pembongkaran chattra saat ini dilakukan untuk mendukung kajian teknis dan Detal Engineering Design (DED).
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Muhammad Fatoni
Chattra menyimbolkan perlindungan bumi dari kekuatan jahat.
Selain itu, chattra juga bermakna sebagai objek persembahan surgawi dan juga penanda anggota keluarga kerajaan.
Baca juga: Wamenag Soal Pemasangan Chattra di Puncak Candi Borobudur: Harapannya Bisa Terpasang September 2024
Jumlah chattra di atas stupa pada masa India kuno adalah tiga belas.
Jumlah ini merupakan lambang penghormatan bagi raja penguasa dunia atau kerajaan yang memiliki daerah kekuasaan yang luas.
Meskipun demikian, berdasarkan maksud dan tujuan didirikannya stupa, budaya lokal, keterampilan dari perajin lokal serta keyakinan masyarakat setempat dapat menyebabkan beragamnya bentuk bagian-bagian stupa (alas, kubah, harmika, dan payung).
Oleh karena itu, bentuk dan gaya arsitektur stupa dapat berbeda-beda, baik antar daerah maupun antar negara.
Perbedaan-perbedaan itu bisa dilihat di negara-negara Asia yang pengaruh ajaran Buddha kuat atau berkembang, seperti India, Sri Lanka, Thailand, Kamboja, Nepal, dan Tibet.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, desakan agar chattra dipasang di stupa induk Candi Borobudur kian menguat.
Kementerian Agama RI lewat Ditjen Bimas Budha menjadi leading sector yang mempromosikan wacana itu lewat berbagai forum.
Di situs Kemenag RI pada 22 Februari 2024 dipublikasikan hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrebang) Tingkat Nasional 2024 Direktorat Bimbingan Masyarakat Buddha di Jakarta.
Disebutkan di artikel itu sejumlah akademisi dan pemerhati candi mendorong agar pemasangan chattra atau payung di puncak Candi Borobudur segera diwujudkan.
Mereka menilai kehadiran chattra diyakini akan memberikan banyak dampak positif bagi umat Buddha, baik di Indonesia maupun dunia.
Chattra mengandung banyak makna filosofis yang sangat mendalam melebihi aspek kesejarahan dan arkeologis.
Hadir dalam diskusi tentang chattra ini antara lain Stanley Khu, dosen Antropologi Universitas Diponegoro Semarang, Prawirawara Jayawardhana (Pemerhati Buddhis Nusantara) dan Hendrick Tanuwijaya (pemerhati Candi Borobudur).
Stanley Khu berpandangan sekarang sudah tiba waktunya untuk memahami Candi Borobudur tidak hanya sebagai candi dalam konteks historis atau arkeologis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Candi-Borobudur-dan-stupa-induknya-tanpa-ornamen-chattra.jpg)