Kisah Inspiratif

INI Kiprah Lokalogi, Komunitas Mahasiswa UGM Ikut Memilah dan Mengolah Sampah

Lokalogi sendiri lahir dari kepedulian para anggota Pramuka UGM terhadap isu sampah yang semakin mendesak di Yogyakarta.  

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Gaya Lufityanti
Istimewa
Lokalogi, komunitas mahasiswa UGM yang ikut memilah dan mengolah sampah di kampus. 

Lokalogi juga telah melaksanakan beberapa kegiatan penting sejak peluncurannya. 

Salah satu kegiatan utama mereka di tahun ini adalah pengelolaan sampah pada acara besar di UGM.

“Kami terlibat dalam dua event besar UGM di tahun ini, yaitu Pionir dan Gelex. Pada Pionir, kami mengelola sampah bersama dengan para volunteer sekitar 93 orang, dan pada Gelex dengan 144 orang anggota, ” jelas Yudhistira. 

Dalam mengelola sampah acara Gelex, Lokalogi menerapkan konsep reduce waste to landfill, yaitu konsep yang mengurangi secara signifikan sampah yang terbuang ke landfill atau TPA. 

Lokalogi menjaga titik tempat sampah terpilah dan mengedukasi sekitar 10.000 pengunjung setiap harinya.

Timbulan sampah yang paling dominan ialah wadah makanan dan minuman berupa sampah plastik, diikuti sampah kertas, yang keduanya termasuk ke dalam sampah anorganik.

Lokalogi mengklasifikasikan sampah menjadi tiga kategori utama: organik, anorganik, dan residu. 

Sampah organik, yang mencakup sisa makanan dan bahan-bahan biologis lainnya, digunakan sebagai pakan untuk makhluk hidup atau diolah menjadi kompos. 

Sampah anorganik, yang terdiri dari plastik, kertas, dan logam, diserahkan kepada mitra daur ulang seperti Daur C, Torsi, dan Duitin. 

Sampah residu, yaitu sampah yang tidak dapat didaur ulang, dikumpulkan dan dikelola oleh pihak ketiga seperti PIAT.

Yudhistira juga mencatat bahwa tantangan terbesar yang dihadapi oleh Lokalogi adalah meningkatkan kesadaran mahasiswa dan masyarakat mengenai pentingnya pemilahan sampah.

“Kami masih menemui banyak mahasiswa yang kurang peduli terhadap pengelolaan sampah, terlebih pada mahasiswa yang membuat acara-acara besar di UGM. Beberapa dari mereka  masih sering meninggalkan sampah sembarangan setelah acara, panitia nya pun kurang memberikan regulasi pengelolaan sampah. Itu yang menjadi tantangan sekaligus motivasi kami,” ungkapnya.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Lokalogi merencanakan berbagai inisiatif edukasi dan pelatihan. 

Pihaknya berencana untuk mengadakan program-program pelatihan lebih banyak lagi. Rencananya kami juga akan melakukan Focus Group Discussion.

“Tujuan kami adalah untuk membagikan ilmu kepada mahasiswa dan masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah dan meningkatkan partisipasi mereka,” kata Yudhistira.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved