Aksi Jogja Memanggil di Gejayan
Aksi Jogja Memanggil di Pertigaan Gejayan: Suara Perlawanan Terhadap Kebijakan Pemerintah
Mereka menyoroti berbagai isu, mulai dari kebijakan ekonomi yang memperburuk ketimpangan sosial, hingga kebijakan lingkungan yang merusak ekosistem.
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kamis sore, (29/8/2024) puluhan orang berkumpul di pertigaan Gejayan, Yogyakarta, untuk menyuarakan keresahan mereka terhadap kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo.
Aksi yang dikenal dengan nama Jogja Memanggil ini dimulai pukul 16.00 WIB dan hingga 18.00 WIB, diwarnai dengan berbagai orasi yang mencoba menggugah kesadaran publik.
Para demonstran, yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat, membawa berbagai spanduk dan poster berisi kritik terhadap kebijakan yang dinilai merugikan rakyat.
Ada yang bertuliskan ‘Adili Jokowi’, ‘Sejahterakan Petani’, hingga ‘Rezim Korup dan Brutal’.
Mereka menyoroti berbagai isu, mulai dari kebijakan ekonomi yang memperburuk ketimpangan sosial, hingga kebijakan lingkungan yang dianggap merusak ekosistem.
Selama dua jam, orasi bergantian dilakukan oleh perwakilan dari berbagai kelompok.
Seorang orator yang merupakan konten kreator menyuarakan pendapatnya agar massa yang melek politik untuk meramaikan TikTok dengan menyampaikan edukasi.
“Sekarang, TikTok saya sering diserang buzzer. Banyak yang memuji Presiden Jokowi bagaimana, tapi itu semua sebenarnya hanya buzzer,” jelasnya.
Ada juga orator yang mengajak massa tetap melawan dengan kebijakan yang merugikan.
Tak lupa, mereka menyinggung upaya Jokowi yang berusaha untuk mencarikan dua anaknya pekerjaan, meski belum cukup umur.
Mereka menyuarakan pentingnya menjaga keadilan sosial dan lingkungan di tengah arus kebijakan yang mereka anggap lebih menguntungkan elite ekonomi dan politik.
Para orator juga mengajak masyarakat untuk lebih kritis dan aktif dalam mengawasi serta menentang kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil.
Aksi ini tidak hanya menjadi wadah untuk menyampaikan kritik, tetapi juga sebagai bentuk perlawanan damai terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai semakin otoriter.
Peserta aksi berharap bahwa suara mereka akan didengar dan menjadi peringatan bagi pemerintah untuk lebih bijak dalam mengambil keputusan yang berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat.
Dengan berakhirnya aksi pada pukul 18:00 WIB, para demonstran membubarkan diri dengan tertib, namun pesan perlawanan dan semangat solidaritas tetap membara di benak mereka. ( Tribunjogja.com )
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.