BPOM Pastikan Vaksin Polio noPV2 Aman
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membantah dokumen rahasia soal vaksin polio noPV2 yang diduga bocor di media sosial.
Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
Hasil uji klinik itu pun telah dievaluasi.
Uji klinik fase 3 dilakukan untuk memastikan suatu obat baru benar-benar berkhasiat dan mengetahui kedudukannya dibandingkan obat standar lainnya.
"Penilai obat menunjukkan vaksin ini telah memenuhi persyaratan keamanan, khasiat, dan mutu, sehingga aman digunakan," tegas Eka.
Anggota Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Soedjatmiko membantah kabar vaksin polio nOPV2 berbahaya bagi kesehatan.
"Pemberitaan tersebut isi dan sumbernya tidak benar atau palsu. Isi dan sumber berita palsu. Hanya untuk menambah popularitas dan follower," ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Jumat.
Soedjatmiko menjelaskan, semua vaksin yang diberikan di semua negara telah melalui uji klinik fase 1, 2, dan 3 untuk menilai keamanan dan imunogenisitasnya.
Menurutnya, uji klinik vaksin PIN polio nOPV2 dilakukan sejak 2011 di Belgia, Panama, Amerika Serikat, Dominika , Gambia, dan beberapa negara lain.
Uji klinik fase 1dilakukan untuk menilai efek samping terkait dengan dosis.
Uji klinik fase 2 diadakan untuk mencari dosis efektif dan menentukan kemanjuran pengobatan.
Uji klinik fase 3 bertujuan memastikan kesembuhan orang yang mendapatkan pengobatan.
"Vaksin nOPV2 terbukti aman dan merangsang kekebalan untuk melawan virus polio 2," tegas Soedjatmiko.
Dia menambahkan, sepuluh hasil uji klinik vaksin nOPV2 telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah kedokteran internasional.
Semua laporan itu menyatakan vaksin tersebut aman dan bermanfaat. Tidak ada kesimpulan negatif dari vaksin itu seperti informasi yang dibagikan di media sosial.
Imunisasi massal dengan vaksin nOPV2 juga telah dilakukan di 13 negara yang memiliki kejadian luar biasa (KLB) polio serotipe 2.
Hasilnya terbukti aman dan bermanfaat.
Selain itu, vaksin Polio nOPV2 juga mendapat ijin BPOM, direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Unicef, Komite Ahli Imunisasi Nasional, Komite Ahli Surveilans PD3I, dan IDAI.
"Hasil uji klinis pakar-pakar di negara-negara tersebut tentu lebih akurat daripada komentar sarjana di Indonesia yang tidak pernah melakukan uji klinis vaksin," imbuh Soedjatmiko. (*)
| Pakar Kesehatan Kulit UGM Ungkap Dampak Kosmetik Berbahan Berbahaya |
|
|---|
| Polemik Isu Sumber AMDK, IHW Soroti Pentingnya Kepatuhan Produsen |
|
|---|
| Kasus Praktik Dokter Hewan di Magelang Edarkan Sekretom Ilegal untuk Pasien Manusia |
|
|---|
| BPOM RI Buka Suara soal Rencana Uji Coba Vaksin TBC Bill Gates di Tanah Air |
|
|---|
| BPOM RI Terus Dalami Kasus Produksi Jamu Ilegal di Bonyokan Klaten, Pemilik Gudang Masih Dicari |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-vaksin-polio-di-sleman.jpg)