Puisi

Kumpulan Puisi Tentang Hari Kebangkitan Nasional

Berikut ini adalah kumpulan puisi yang bisa anda gunakan dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
HABA ACEH
HARKITNAS 20 MEI 

TRIBUNJOGJA.COM - berikut ini adalah kumpulan puisi yang bisa anda gunakan dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional.

Salah satu cara untuk dapat memperingati Hari Kebangkitan Nasional adalah dengan mengekspresikannya lewat puisi.

Puisi-puisi ini bisa anda kirimkan kepada teman ataupun keluarga dan juga bisa jadi ide caption di sosial media.

Simak puisi bertema Hari Kebangkitan Nasional di bawah ini:


Karawang-Bekasi 

Karya: Chairil Anwar


Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi 

Tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi, 

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami

Terbayang kami maju dan mendegap hati ?


Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.

Kenang, kenanglah kami.


Kami sudah coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa


Kami cuma tulang-tulang berserakan

Tapi adalah kepunyaanmu


Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan


Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan 

Atau tidak untuk apa-apa

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata 

Kaulah sekarang yang berkata


Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak


Kenang, kenanglah kami 

Teruskan, teruskan jiwa kami

Menjaga Bung Karno 

Menjaga Bung Hatta 

Menjaga Bung Sjahrir


Kami sekarang mayat

Berikan kami arti

Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian


Kenang, kenanglah kami

Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi


Hai. Kamu!

Oleh: W.S. Rendra


Luka-luka di dalam lembaga, 

Intaian keangkuhan kekerdilan jiwa,

Noda di dalam pergaulan antar manusia, 

Duduk di dalam kemacetan angan-angan.

Aku berontak dengan memandang cakrawala.


Jari-jari waktu menggamitku,

Aku menyimak kepada arus kali,

Lagu margasatwa agak mereda,

Indahnya ketenangan turun ke hatiku,

Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku.


Pesona Negeriku

Karya: Rintanalinie Girinata Primanique


Indahnya bumi pertiwi paru-paru dunia

Negeri cincin api rawan bencana

Surga eksotika maha sempurna

Melenakan hati manjakan mata


Bentang alam untaian zamrud khatulistiwa

Gugusan pulau tebar pesona

Bertabur pantai kental budaya

Harmoni kehidupan di tengah heterogenitas bangsa


Buaian bumi khatulistiwa

Dalam lukisan pena indah kuasa-Nya

Menyimpan satwa dan tumbuhan langka

Potensi alam luar biasa

Mengurai kepingan cerita

Beranekaragam kepercayaan dan budaya

Keindahan yang tak terungkap kata

Selayaknya kita jaga

 

Sajak Sebatang Lisong

Oleh: W.S. Rendra


Menghisap sebatang lisong 

Melihat Indonesia Raya

Mendengar 130 juta rakyat, 

dan di langit 

dua tiga cukong mengangkang, 

berak di atas kepala mereka


Matahari terbit,

Fajar tiba,

Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak 

tanpa pendidikan.


Aku bertanya, 

tetapi pertanyaan-pertanyaanku 

membentur meja kekuasaan yang macet, 

dan papantulis-papantulis para pendidik 

yang terlepas dari persoalan kehidupan.


Delapan juta kanak-kanak menghadapi satu jalan panjang,

tanpa pilihan,

tanpa pepohonan,

tanpa dangau persinggahan, 

tanpa ada bayangan ujungnya.


Menghisap udara 

yang disemprot deodorant, 

aku melihat sarjana-sarjana menganggur berpeluh di jalan raya

aku melihat wanita bunting antri uang pensiun,


Dan di langit

para tekhnokrat berkata:


bahwa bangsa kita adalah malas, 

bahwa bangsa mesti dibangun

mesti di-up- grade


Semoga Bermanfaat! (MG Risma Tia)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved