Pesan Terselubung Vladimir Putin Lewat Latihan Perang Nuklir Taktis

Tidak tanggung-tanggung, Rusia menggelar latihan perang nuklir taktis yang digelar pada Senin 6 Mei 2024 kemarin

Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
Sputnik/Mikhail Voskresenskiy
Sistem rudal balistik jarak pendek Rusia. 

TRIBUNJOGJA.COM - Meski tengah berperang melawan Ukraina, Rusia masih menyempatkan diri untuk menggelar latihan perang.

Tidak tanggung-tanggung, Rusia menggelar latihan perang nuklir taktis yang dilaksanakan pada Senin 6 Mei 2024 kemarin.

Latihan perang nuklir taktis ini diperintahkan langsung oleh Presiden Vladimir Putin.

Latihan perang itu dilaksanakan di Distrik Militer Selatan, yang berbatasan dengan Ukraina.

Langkah Rusia menggelar latihan perang nuklir taktis ini merupakan respon atas gertakan negara-negara barat, AS dan sekutunya yang terus menekan negaranya.

Melalui latihan perang nuklir taktis ini, Vladimir Putin seolah ingin memberikan pesan kepada negara-negara Barat apa konsekuensi yang akan terjadi jika Barat terus ikut campur tangan memberi dukungan ke Ukraina.

Pesan ini disampaikan Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan Rusia seperti yang dikutip dari Tribunnews.com.

Selama ini, Rusia selalu dituduh melancarkan ancaman nuklir.

Kremlin sendiri menegaskan bahwa doktrin nuklir Moskow telah dijabarkan pada Juli 2020 dan tetap tidak berubah.

Latihan nuklir taktis ini menurut Moskow untuk menyempurnakan “aspek praktis dari persiapan dan penyebaran senjata nuklir non-strategis.”

Baca juga: Penjelasan BMKG Soal Suhu Panas di Indonesia

Selain itu juga untuk memperkuat kesiapan peralatan dan personel, “untuk menjamin integritas dan kedaulatan Rusia,” kata Kementerian Pertahanan Rusia pada hari Senin.

Latihan tersebut akan berlangsung di Distrik Militer Selatan yang berbatasan langsung dengan Ukraina.

Berkantor pusat di Rostov-on-Don, ini adalah distrik militer terkecil di Rusia, dan mencakup Krimea, Kaukasus, wilayah Rostov, Volgograd dan Krasnodar, serta Republik Rakyat Donetsk (DPR) yang baru diakui, Republik Rakyat Lugansk ( LPR), Wilayah Kherson dan Zaporozhye.

Hulu ledak dengan hasil yang diukur dalam kiloton TNT – seperti senjata yang digunakan AS terhadap kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang pada bulan April 1945 – kini dianggap sebagai senjata nuklir taktis.

Mereka dimaksudkan untuk digunakan terhadap target medan perang, baik formasi lapangan atau posisi tempur yang diperkeras.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved