Penjelasan BMKG Soal Suhu Panas di Indonesia
Dalam beberapa hari terakhir, suhu udara pada siang hari di sejumlah wilayah di Indonesia terasa sangat menyengat.
Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA - Dalam beberapa hari terakhir, suhu udara pada siang hari di sejumlah wilayah di Indonesia terasa sangat menyengat.
Berdasarkan hasil pengamatan suhu yang dilakukan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), suhu udara tertinggi terjadi pada 23 April lalu dimana suhu udara di kota Palu mencapai 37,8 derajat celsius.
Lalu pada 21 April, suhu udara di Medan, Sumatera Utara; Saumlaki, Maluku; dan Palu, Sulawesi Tengah tercatat mencapai 36,5 derajat celcius.
Apakah suhu panas yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia itu merupakan gelombang panas atau heatwave seperti yang terjadi di wilayah Thailand dan Kamboja?
Dikutip dari Kompas.com, ternyata suhu panas di sejumlah wilayah di Indonesia tersebut bukanlah gelombang panas seperti yant terjadi di Thailand dan Kamboja.
Menurut Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati fenomena suhu panas di sejumlah wilayah di Indonesia bukan gelombang panas.
Fenomena tersebut hanyalah suhu panas pada umumnya.
"Namun, khusus di Indonesia yang terjadi bukanlah gelombang panas, melainkan suhu panas seperti pada umumnya," ungkap Dwikorita di Jakarta, Senin (6/5/2024).
Baca juga: Update Aktivitas Gunung Merapi, Selasa 7 Mei 2024: Ada 18 Kali Guguran Lava ke Arah Kali Bebeng
Menurut Dwikorita, kondisi maritim di sekitar Indonesia dengan laut yang hangat dan topografi pegunungan mengakibatkan naiknya gerakan udara.
Sehingga dimungkinkan terjadinya penyanggaan atau buffer kenaikan temperatur secara ekstrem dengan terjadi banyak hujan yang mendinginkan permukaan secara periodik.
Hal inilah yang menyebabkan tidak terjadinya gelombang panas di wilayah Kepulauan Indonesia.
Penyebab suhu panas di Indonesia menurut Dwikorita karena pemanasan permukaan sebagai dampak dari mulai berkurangnya pembentukan awan dan berkurangnya curah hujan.
Hal ini merupakan fenomena yang wajar karena saat ini wilayah Indonesia memasuki periode peralihan musim penghujan ke musim kemarau.
Fenomena tersebut terjadi karena kombinasi dampak pemanasan permukaan dan kelembaban yang masih relatif tinggi pada periode peralihan ini.
"Periode peralihan ini umumnya dicirikan dengan kondisi pagi hari yang cerah, siang hari yang terik dengan pertumbuhan awan yang pesat diiringi peningkatan suhu udara, kemudian terjadi hujan pada siang menjelang sore hari atau sore menjelang malam hari," papar Dwikorita.
| Info Cuaca Wilayah DIY, Waspada Hujan Lebat di Kota Yogya, Sleman, GK, Bantul dan KP Hari Ini |
|
|---|
| Prakiraan Cuaca Kamis 26 Maret 2026, Waspada Hujan Disertai Angin Kencang di Seluruh Wilayah DIY |
|
|---|
| Prakiraan Cuaca DIY Rabu 18 Maret 2026 : Cuaca Cerah Sepanjang Hari Ini |
|
|---|
| Prakiraan Cuaca DIY Selasa 17 Maret 2026: Berawan hingga Potensi Hujan Ringan |
|
|---|
| Cuaca DIY Hari Ini Selasa 17 Maret 2026: Waspada Potensi Hujan Petir di Sleman Utara |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/httpswwwyoutubecomwatchv8fiXfGNUJJk.jpg)