Pencegahan Antraks Dilakukan Lintas Wilayah DIY dan Jateng
Rapat Koordinasi ini dilakukan sebagai upaya kolaborasi penanggulangan antraks di DIY- Klaten Jawa Tengah agar tidak semakin meluas.
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY menggelar Rapat Koordinasi Penanggulangan Antraks di DIY di Kantor DPKP DIY, Rabu (13/3/2024), merespon temuan puluhan warga di Padukuhan Kayoman, Serut, Gedangsari, Gunungkidul dan Kalinongko Kidul, Gayamharjo, Prambanan, Sleman yang suspect antraks, bahkan satu orang dilaporkan meninggal dunia.
Plt Kepala DPKP DIY, Hery Sulistio Hermawan, mengatakan Rapat Koordinasi ini dilakukan sebagai upaya kolaborasi penanggulangan antraks di DIY- Klaten Jawa Tengah agar tidak semakin meluas.
Termasuk akan mengintervensi kebutuhan seperti pengobatan antibiotik, pemberian vitamin, kemudian pencegahan ada vaksinasi serta disinfektan.
"Termasuk menyepakati harus dilakukan zonasi, artinya dengan zonasi kita membuat klasifikasi daerah-daerah yang memang merah harus ditangani serius, daerah yang kuning harus diantisipasi jangan sampai meluas kesana. Daerah hijau daerah-daerah yang aman," katanya.
Meski tak berstatus kejadian luar biasa (KLB) walaupun melihat cakupan, ternak, hingga suspek sudah bisa dikatakan KLB, menurutnya pada prinsipnya seluruh stakeholder dan lintas sektor sudah bekerja bersama melakukan penanganan dan penanggulangan.
"Tinggal keseriusan kita bersama-sama melakukan penanggulangan, artinya memang semua harus bergerak bersama-sama," kata Hery.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates drh Hendra Wibawa mengatakan bahwa sejauh ini dari sampel ternak, tanah, pakan, yang diambil yang terkonfirmasi positif berada di dua pemilik.
Satu pemilik di Kalinongko Kidul, Gayamharjo Prambanan, Sleman serta satu pemilik lagi di Kayoman, Serut, Gedangsari, Gunungkidul.
Sekadar informasi, dua lokasi ini hanya berjarak tidak lebih dari 200-an meter.
Dijelaskannya, ternak yang terkonfirmasi positif hanya satu yakni sapi milik S warga Kayoman Serut Gedangsari Gunungkidul.
"Kemudian lainnya adalah tanah. Artinya disitu mungkin dulu pernah terjadi (antraks) karena sifatnya antraks dia sporanya bertahan di tanah. Ditempat WG itu tanah untuk menyembelih terkonfirmasi positif (antraks)," bebernya.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa pihaknya belum dapat menganalisa pasti penyebab awal antraks muncul di daerah awal kasus yakni Sleman.
Memang karena infeksi bakteri antraks, namun tak mengetahui pasti asal mulanya.
Padahal daerah tersebut dianggap belum ada riwayat sebelumnya.
"Biasanya penyebab awal kita agak susah mengidentifikasi tetapi penyebaran itu faktor resikonya mungkin dari rumput yang tercemar spora," ujarnya.
| Sekolah Terdampak Tol Jogja–Solo, SD Nglarang Pindah ke Lahan Baru Seluas 4.800 m² |
|
|---|
| Mogok Kerja Pertama Sejak 1998, Buruh PT Taru Martani Desak Manajemen Penuhi Tiga Tuntutan |
|
|---|
| Perluas Jangkauan, Pemkot Yogyakarta Tambah 9 Sekolah Lansia S-1 Tahun Ini |
|
|---|
| Melirik Galeri Kavach Space Yogyakarta: Tawarkan Kacamata Bernuansa Vintage |
|
|---|
| Cukur Gratis Sambut Ramadan ala Lazismu Bersama PDM Kota Yogyakarta |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Plt-Kepala-DPKP-DIY-Hery-Sulistio-Hermawan.jpg)