Update Berita Gunung Merapi

Aktivitas Merapi Sepeken Terakhir, Muntahkan Guguran Lava Ratusan Kali Hingga Hujan Abu Vulkanik

Pada minggu ini terjadi rentetan awanpanas guguran sebanyak 8 kali pada tanggal 4 Maret 2024 yang mengarah ke barat daya atau hulu Kali Bebeng.

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA/Istimewa
Gunung Merapi di perbatasan DI Yogyakarta dan Jawa Tengah terpantau memuntahkan 8 kali awan panas guguran dalam rentan waktu 2,5 jam, Senin (4/3/2024). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah (Jateng)-DIY terus menampakkan aktivitas awan panas guguran.

Hal ini diinformasikan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) yang mencatat ada ratusan guguran lava dalam sepekan terakhir awal Maret 2024 kali ini.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan BPPTKG Agus Budi Santoso mengatakan aktivitas tersebut tercatat pada periode 1 hingga 7 Maret 2024.

Pada minggu ini terjadi rentetan awanpanas guguran sebanyak 8 kali pada tanggal 4 Maret 2024 yang mengarah ke barat daya atau hulu Kali Bebeng dengan jarak luncur maksimal 2.600 meter.

"Akibat rentetan awan panas itu, dilaporkan hujan abu vulkanik di sejumlah wilayah lereng Merapi," katanya, melalui laporannya, Minggu (10/3/2024).

Dampak awan panas guguran terpantau di stasiun Pasar Bubrah tepatnya sisi utara dengan jarak 800 meter dari puncak.

"Hujan abu tipis juga dilaporkan terjadi di Selo dan Cepogo, Kabupaten Boyolali," imbuh Agus.

Selain awan panas, Gunung Merapi dalam sepekan turut mengeluarkan meterial lava. 

Baca juga: Kabar Terbaru Letusan Gunung Merapi Hari Ini, Berikut Penjelasan BPPTKG Yogyakarta

Teramati sebanyak 123 kali guguran lava ke arah selatan dan barat daya.

Dengan rincian guguran lava itu meliputi 1 kali ke hulu Kali Boyong sejauh 1.000 meter dan 122 kali ke hulu Kali Bebeng sejauh maksimal 2.000 meter. 

Suara guguran terdengar 2 kali dari Pos Babadan dengan intensitas kecil.

"Berdasarkan analisis morfologi kubah lava dari stasiun kamera Deles5, Tunggularum, Ngepos, Babadan2 dan anailsis thermal dari survey drone pada tanggal 28 Februari 2024," ungkapnya.

Morfologi kubah barat daya juga teramati adanya perubahan akibat adanya aktivitas awanpanas guguran dan guguran lava.

Titik panas terukur mencapai 251,1 derajat celsius, lebih rendah 3,8 derajat celsius dari suhu pengukuran sebelumnya. 

"Untuk morfologi kubah tengah relatif tetap dengan titik panas terukur mencapai 209,5 derajat celsius, lebih tinggi 17,4 derajat celcius dari suhu pengukuran sebelumnya," jelasnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved