Hadis Harian
Hadits Arbain Ke 20: Pelajaran Hadis Tentang Rasa Malu dalam Islam
Rasa malu dalam bahasa arab yaitu ( حياء) secara terminologis memiliki kata yang mirip dengan kata hidup yang dalam bahasa yaitu (حياة). Banyak ahli l
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Malu sebenarnya memang sudah sifat alami manusia, namun bagaimana menggunakannya sudah diajarkan oleh Nabi-Nabi terdahulu.
Seperti yang tertulis dalam redaksi hadits “Sesungguhnya termasuk perkara yang didapati oleh manusia dari perkataan nubuwwah (kenabian) yang pertama adalah jika engkau tidak malu maka berbuatlah sesukamu.”
Imam Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata mengenai hadits tersebut “Hadits ini menunjukkan bahwa sifat malu adalah sisa dari ajaran Nabi terdahulu. Kemudian manusia menyebarkan dan mewariskan dari para Nabi tersebut pada setiap zaman.
Maka hal ini menunjukkan bahwa kenabian terdahulu biasa menyampaikan perkataan ini sehingga tersebarlah di antara orang-orang hingga perkataan ini juga akhirnya sampai pada umat Islam.” (Jami’ Al-‘ulum wa Al-Hikam, 1:497)
Rasa malu terbagi menjadi dua macam yaitu rasa malu yang terpuji dan tercela. Pada dasarnya rasa malu membawa kepada perbuatan terpuji sebagimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
الحياءُ لا يأتي إلاَّ بخيرٍ
"Rasa malu tidaklah mendatangkan melainkan kebaikan". (HR. Bukhari No. 6117, Muslim No. 37, 60)
Tapi faktanya, tidak sedikit manusia yang salah dalam menerapkan rasa malu. Tidak jarang ditemukan beberapa orang ketika dalam keadaan yang diharuskan mereka malu namun mereka tidak malu.
Begitupun sebaliknya tidak jarang juga ditemukan seseorang ketika dalam keadaan yang diharuskan mereka tidak malu namun mereka malu untuk menunjukkannya.
Rasa malu juga merupakan bagian cabang dari iman sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
َاْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َاْلإِيْمَانُ.
“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘La ilaha Iaa illaallah,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang Iman.” Shahih: HR.al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no. 598), Muslim (no. 35), Abu Dawud (no. 4676), an-Nasa-i (VIII/110) dan Ibnu Majah (no. 57), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Lihat Shahihul Jami’ ash-Shaghir (no. 2800).
Berbahagialah bagi orang-orang yang malu karena memang rasa malu adalah salah satu sifat pribadi Rasulullah seperti yang diakatakan Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ الْعَذْرَاءِ فِـيْ خِدْرِهَا.
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih pemalu daripada gadis yang dipingit di kamarnya.”
[Shahih: HR.al-Bukhari (no. 6119).]
(MG An-Nafi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/3-Arti-Mimpi-Malu-Menurut-Primbon-Takut-Membuat-Diri-Sendiri-Menjadi-Lelucon.jpg)