Hadis Harian

Hadits Arbain Ke 20: Pelajaran Hadis Tentang Rasa Malu dalam Islam

Rasa malu dalam bahasa arab yaitu ( حياء) secara terminologis memiliki kata yang mirip dengan kata hidup yang dalam bahasa yaitu (حياة). Banyak ahli l

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
pixabay
Ilustrasi rasa malu 

TRIBUNJOGJA.COM - Allah subahanahu wa ta’ala menciptakan satu sifat manusia yang mana sifat tersebut termasuk dalam sebagian iman.

Istilah tentang sifat ini pun sudah banyak yang mendengarnya, sifat tersebut adalah sifat malu.

Rasa malu dalam bahasa arab yaitu ( حياء) secara terminologis memiliki kata yang mirip dengan kata hidup yang dalam bahasa yaitu (حياة).

Banyak ahli literatur sepakat dengan istilah tersebut dikarenakan memang ada benang merah yang menghubungkan antara sifat malu dengan kehidupan seseorang.

Berikut hadits Arbain yang ke 20 tentang rasa malu:

عَنْ أَبيْ مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو الأَنْصَارِيِّ البَدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: صلى الله عليه وسلّم (إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُولَى إِذا لَم تَستَحْيِ فاصْنَعْ مَا شِئْتَ) رَوَاهُ اْلبُخَارِيّ

Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al Anshari Al Badri radhiyallahu ‘anhu dia berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Sesungguhnya termasuk perkara yang didapati oleh manusia dari perkataan nubuwwah (kenabian) yang pertama adalah jika engkau tidak malu maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Al Bukhari)

Imam Ibnul Qayim rahimahullah berkata “Malu berasal dari kata hayaah (hidup), dan ada yang berpendapat bahwa malu berasal dari kata al-hayaa (hujan), tetapi makna ini tidak masyhur. Hidup dan matinya hati seseorang sangat mempengaruhi sifat malu orang tersebut.

Begitu pula dengan hilangnya rasa malu, dipengaruhi oleh kadar kematian hati dan ruh seseorang, sehingga setiap kali hati hidup, pada saat itu pula rasa malu menjadi lebih sempurna”.

Al-Junaid rahimahullah juga berkata “Rasa malu yaitu melihat kenikmatan dan keteledoran sehingga menimbulkan suatu kondisi yang disebut dengan malu.

Hakikat malu ialah sikap yang memotivasi untuk meninggalkan keburukan dan mencegah sikap menyia-nyiakan hak pemiliknya.”

Dalam redaksi hadits tertulis اصْنَعْ yang mana kalimat tersebut secara kedudukannya adalah kalimat perintah. Para ulama berselisih pendapat ketika menafsirkan tentang kalimat ini dan akhirnya terbentuklah dua pendapat.  

Pendapat pertama menafsirkan bahwa kalimat perintah tersebut berfungsi sebagai Tahdid (ancaman) dan Taubikh (celaan) sehingga menghasilkan makna “jika rasa malu telah hilang dari mu, maka lakukanlah apapun yang nafsu mu inginkan. Karena Allah telah memperbolehkannya”. Artinya adalah bahwa Allah telah membiarkan dia berbuat semaunya dalam arti lain Allah pun sudah tidak peduli, mengasihinya dan tentunya tidak ada rahmat untuknya.

Sedangkan menurut pendapat kedua, kalimat اصْنَعْ memang berbentuk kalimat perintah secara tekstual sedangkan secara makna berfungsi sebagai Khabar  (informasi). Sehingga menghasilkan makna jika kau telah kehilangan rasa malu maka kau berbuat sesukamu sehingga terperosok kedalam perbuatan keji dan munkar”.

Pelajaran Hadits

Malu sebenarnya memang sudah sifat alami manusia, namun bagaimana menggunakannya sudah diajarkan oleh Nabi-Nabi terdahulu.

Seperti yang tertulis dalam redaksi hadits “Sesungguhnya termasuk perkara yang didapati oleh manusia dari perkataan nubuwwah (kenabian) yang pertama adalah jika engkau tidak malu maka berbuatlah sesukamu.”

Imam Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata mengenai hadits tersebut “Hadits ini menunjukkan bahwa sifat malu adalah sisa dari ajaran Nabi terdahulu. Kemudian manusia menyebarkan dan mewariskan dari para Nabi tersebut pada setiap zaman.

Maka hal ini menunjukkan bahwa kenabian terdahulu biasa menyampaikan perkataan ini sehingga tersebarlah di antara orang-orang hingga perkataan ini juga akhirnya sampai pada umat Islam.” (Jami’ Al-‘ulum wa Al-Hikam, 1:497)

Rasa malu terbagi menjadi dua macam yaitu rasa malu yang terpuji dan tercela. Pada dasarnya rasa malu membawa kepada perbuatan terpuji sebagimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

الحياءُ لا يأتي إلاَّ بخيرٍ

"Rasa malu tidaklah mendatangkan melainkan kebaikan". (HR. Bukhari No. 6117, Muslim No. 37, 60)

Tapi faktanya, tidak sedikit manusia yang salah dalam menerapkan rasa malu. Tidak jarang ditemukan beberapa orang ketika dalam keadaan yang diharuskan mereka malu namun mereka tidak malu.

Begitupun sebaliknya tidak jarang juga ditemukan seseorang ketika dalam keadaan yang diharuskan mereka tidak malu namun mereka malu untuk menunjukkannya.

Rasa malu juga merupakan bagian cabang dari iman sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

َاْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َاْلإِيْمَانُ.

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘La ilaha Iaa illaallah,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang Iman.” Shahih: HR.al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no. 598), Muslim (no. 35), Abu Dawud (no. 4676), an-Nasa-i (VIII/110) dan Ibnu Majah (no. 57), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Lihat Shahihul Jami’ ash-Shaghir (no. 2800).

Berbahagialah bagi orang-orang yang malu karena memang rasa malu adalah salah satu sifat pribadi Rasulullah seperti yang diakatakan Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ الْعَذْرَاءِ فِـيْ خِدْرِهَا.

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih pemalu daripada gadis yang dipingit di kamarnya.”

[Shahih: HR.al-Bukhari (no. 6119).]

(MG An-Nafi)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved