Hadis Harian
Hadits Arbain Ke 20: Pelajaran Hadis Tentang Rasa Malu dalam Islam
Rasa malu dalam bahasa arab yaitu ( حياء) secara terminologis memiliki kata yang mirip dengan kata hidup yang dalam bahasa yaitu (حياة). Banyak ahli l
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUNJOGJA.COM - Allah subahanahu wa ta’ala menciptakan satu sifat manusia yang mana sifat tersebut termasuk dalam sebagian iman.
Istilah tentang sifat ini pun sudah banyak yang mendengarnya, sifat tersebut adalah sifat malu.
Rasa malu dalam bahasa arab yaitu ( حياء) secara terminologis memiliki kata yang mirip dengan kata hidup yang dalam bahasa yaitu (حياة).
Banyak ahli literatur sepakat dengan istilah tersebut dikarenakan memang ada benang merah yang menghubungkan antara sifat malu dengan kehidupan seseorang.
Berikut hadits Arbain yang ke 20 tentang rasa malu:
عَنْ أَبيْ مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو الأَنْصَارِيِّ البَدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: صلى الله عليه وسلّم (إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُولَى إِذا لَم تَستَحْيِ فاصْنَعْ مَا شِئْتَ) رَوَاهُ اْلبُخَارِيّ
Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al Anshari Al Badri radhiyallahu ‘anhu dia berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Sesungguhnya termasuk perkara yang didapati oleh manusia dari perkataan nubuwwah (kenabian) yang pertama adalah jika engkau tidak malu maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Al Bukhari)
Imam Ibnul Qayim rahimahullah berkata “Malu berasal dari kata hayaah (hidup), dan ada yang berpendapat bahwa malu berasal dari kata al-hayaa (hujan), tetapi makna ini tidak masyhur. Hidup dan matinya hati seseorang sangat mempengaruhi sifat malu orang tersebut.
Begitu pula dengan hilangnya rasa malu, dipengaruhi oleh kadar kematian hati dan ruh seseorang, sehingga setiap kali hati hidup, pada saat itu pula rasa malu menjadi lebih sempurna”.
Al-Junaid rahimahullah juga berkata “Rasa malu yaitu melihat kenikmatan dan keteledoran sehingga menimbulkan suatu kondisi yang disebut dengan malu.
Hakikat malu ialah sikap yang memotivasi untuk meninggalkan keburukan dan mencegah sikap menyia-nyiakan hak pemiliknya.”
Dalam redaksi hadits tertulis اصْنَعْ yang mana kalimat tersebut secara kedudukannya adalah kalimat perintah. Para ulama berselisih pendapat ketika menafsirkan tentang kalimat ini dan akhirnya terbentuklah dua pendapat.
Pendapat pertama menafsirkan bahwa kalimat perintah tersebut berfungsi sebagai Tahdid (ancaman) dan Taubikh (celaan) sehingga menghasilkan makna “jika rasa malu telah hilang dari mu, maka lakukanlah apapun yang nafsu mu inginkan. Karena Allah telah memperbolehkannya”. Artinya adalah bahwa Allah telah membiarkan dia berbuat semaunya dalam arti lain Allah pun sudah tidak peduli, mengasihinya dan tentunya tidak ada rahmat untuknya.
Sedangkan menurut pendapat kedua, kalimat اصْنَعْ memang berbentuk kalimat perintah secara tekstual sedangkan secara makna berfungsi sebagai Khabar (informasi). Sehingga menghasilkan makna jika kau telah kehilangan rasa malu maka kau berbuat sesukamu sehingga terperosok kedalam perbuatan keji dan munkar”.
Pelajaran Hadits
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/3-Arti-Mimpi-Malu-Menurut-Primbon-Takut-Membuat-Diri-Sendiri-Menjadi-Lelucon.jpg)