Merapi Semburkan Awan Panas Lagi, Jarak Luncur 1,8 Kilometer Arah Barat Daya

Gunung Merapi di perbatasan DIY-Jateng, kembali memuntahkan Awan Panas Guguran (APG), Rabu (24/1/2024) sekira pukul 15.56 WIB.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/Setya Krisna Sumargo
Sejumlah pengunjung di antaranya warga Prancis dan Yordania menyaksikan Gunung Merapi dari Gardu Pandang Kaliurang, Pakem, Sleman, Kamis (24/1/2024) siang. Mereka beruntung bisa menyaksikan tubuh hingga puncak gunung Merapi saat terbuka dalam waktu beberapa menit siang itu. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN – Gunung Merapi di perbatasan DIY-Jateng, kembali memuntahkan Awan Panas Guguran (APG), Rabu (24/1/2024) sekira pukul 15.56 WIB.

Luncuran awan panas sejauh 1,8 kilometer atau 1.800 meter dari puncak ini mengarah ke sektor barat daya, ke arah hulu Kali Bebeng dan Krasak.

Awan panas atau kerap dijuluki ‘wedhus gembel’ ini mewarnai periode anteng yang ditunjukkan Merapi sepanjang Kamis dini hari, antara pukul 00.00-06.00 WIB.

Sepanjang enam jam pertama hari ini, hanya terdeteksi satu (1) kali gempa guguran.

Kegempaan lainnya tidak ada di laporan periodik pengamat Merapi di BPPTKG Yogyakarta yang diperoleh di laman magma.esdm.go.id, Kamis sore.

Namun di enam jam berikutnya, yaitu antara pukul 06.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB terdata 16 kali gempa guguran amplitude 3-18 mm durasi maksimal 160 detik.

Awan Panas Guguran terkini yang terjadi pukul 15.56 WIB memiliki amplitudo maksimal 51 mm. Durasi 168.28 detik, jarak luncur diperkirakan maksimal 1.800 meter ke barat daya.

Secara visual Gunung Merapi berkabut dan arah angin ke timur tenggara. Ujung luncuran awan panas bisa diamati dari wilayah Balerante, Tunggularum di Kecamatan Turi, Sleman.

Baca juga: Antisipasi Peningkatan Aktivitas Gunung Merapi, BPBD DIY Imbau Masyarakat di KRB Waspada

Ujung luncuran itu muncul dari balik awan tebal yang menyelimuti lereng hingga puncak gunung. Sementara bubungan debu vulkanik kecokelatan juga muncul bersamaan di puncak gunung.

Informasi resmi BPPTKG Yogyakarta hingga 24 Januari 2024 menyatakan potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya.

Wilayahnya meliputi alur Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer.

Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro di Klaten, Jateng, sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km.

Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.

Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya.

BPPTKG Yogyakarta meminta masyarakat tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya tersebut.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved