Berita Bantul Hari Ini
Jelajah Wisata Hutan Pinus Mangunan
Hutan Pinus Mangunan cocok jadi referensi wisatawan yang ingin melepas penat atau menyegarkan pikiran dari hiruk pikuk keramaian masyarakat.
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Sejuk, asri, bebas polusi, dan tenang, itulah yang dapat dirasakan sejumlah wisatawan saat mengunjungi Hutan Pinus Mangunan tepat berada di Jalan Hutan Pinus Ngajir, Kalurahan Mangunan, Kapanewon Dlingo, Kabupaten Bantul , DI Yogyakarta.
Pasalnya, lokasi tersebut cukup jauh dari pusat keramaian aktivitas masyarakat.
Sehingga, destinasi wisata alam tersebut cocok jadi referensi wisatawan yang ingin melepas penat atau menyegarkan pikiran dari hiruk pikuk keramaian masyarakat.
Ketua Pengelola Hutan Pinus Mangunan , Anang Suhendri, mengatakan, tempat wisata itu memiliki total luas lahan 9,2 hektare.
Namun, baru sekitar 5 hektare lahan yang dimanfaatkan sebagai obyek wisata.
"Ini masuknya ke Wanawisata Budaya Mataram. Artinya, dikelola oleh koperasi dan kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DI Yogyakarta," jelasnya kepada Tribunjogja.com , di Hutan Pinus Mangunan , Sabtu (13/1/2024).
Disampaikannya, di lokasi tersebut terdapat sejumlah pilihan lokasi untuk bersantai, berfoto, maupun pagelaran sejumlah acara.
Beberapa di antaranya berupa taman, gardu pandang, panggung live musik hingga spot foto menggunakan perahu.
Untuk menikmati suasana di destinasi wisata alam yang berjarak sekitar 25,1 kilometer dari Tugu Kota Yogyakarta itu, wisatawan cukup membayar tiket masuk sebesar Rp5.000 per orang.
Wisata itu pun dibuka setiap hari sejak pukul 06.00-18.00 WIB.
"Di sini (Hutan Pinus Mangunan) juga bisa dijadikkan tempat prewedding, tapi ada tarifnya senilai Rp200 ribu. Kemudian juga bisa jadi tempat rekaman video clip, sewa aula, dan sewa tempat senilai Rp250 ribu," tutur Hendri, sapaan akrabnya.
"Lalu bisa juga sebagai tempat pembuatan film komersil senilai Rp3,500 juta dan sewa panggung non komersil senilai Rp1 juta. Harga itu, nantinya kami setorkan ke pemerintah sesuai pajak retibusi wisata sekitar 25 persen dari pendapatan," imbuh dia.
Baca juga: Pemkab Bantul Targetkan Kebun Buah Mangunan Meraih PAD Sebesar Rp 2 Miliar
Awal Berdiri Hutan Pinus Mangunan
Hendri turut menceritakan awal berdirinya Hutan Pinus Mangunan .
Di mana, destinasi wisata alam itu muncul dari adanya ide kreatif sejumlah warga setempat.
"Tempat wisata itu mulai berdiri pada 2012. Saat itu, status Hutan Pinus Mangunan masih rintisan. Di mana, ada petani hutan yang punya kegiatan menyadap atau mengambil getah pinus," urai dia.
"Kemudian, mereka didampingi oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan DIY. Tapi, lama-lama ada inisiatif dari kelompok tani itu untuk membuka lapak tempat penitipan kendaraan," imbuhnya.
Pasalnya, saat itu, tempat wisata tersebut cukup dilirk oleh sejumlah wisatawan.
Namun, skala jumlah wisatawan yang berkunjung masih sedikit.
Kemudian, kala itu sistem pengamanan dan keamanan belum ada.
Sehingga, tempat penitipan kendaraan itu pun dibuat dan didirikan oleh sejumlah petani yang juga merupakan warga setempat.
Kondisi penitipan kendaraan itu masih masih sangat sederhana.
"Lalu selama dua tahun ke depan, kondisi kunjungan wisatawan masih sepi. Hanya ada satu atau dua wisatawan pada hari-hari biasa dan beberapa wisatawan pada akhir pekan," tutur dia.
"Tapi, sekitar 2014-2015 itu, kunjungan wisatwan mulai ramai dan petani sadap atau yang mengambil getah pinus sudah mulai membersihkan semak-semak yang ada di dalam.
Hal itu kemudian membuat Gubernur DIY berkunjung dan menyampaikan beberapa arahan kepada para petani sadap atau yang mengambil getah pinus.
"Katanya, kalau para petani itu mau melanjutkan atau mengelola hutan pinus menjadi obyek wisata, silahkan berkirim surat ke Kementerian Lingkungan Hidup dan kehutanan dan dijawab bahwa pengelolaan hutan itu ada di Pemerintah DIY," jelasnya.
"Setelah itu kami ajukan. Tapi kalau mau kerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY paling tidak ada masyarakat yang mempunyai badan hukum," sambung Hendri.
Sehingga, pada 2016, kelompok tani hutan pinus tersebut mendirikan Koperasi Notowono dan memproses kerja sama dengan destinasi wisata Hutan Pinus Mangunan kepada pemerintah terkait yang akhirnya disetujui pada 2017.
"Bersyukurnya, kunjungan wisatawan terus berjalan dengan baik dan terdapat retribusi wisata ke pemerintah terkait," tuturnya.
"Memang sempat terdapat penurunan kunjungan wisatawan pada saat pandemi Covid-19. Tapi saat ini mulai berjalan normal dan rata-rata kunjungan wisatawan pada hari-hari biasa sekitar 500 orang. Kemudian pada akhir pekan bisa 1.000-2.000 orang," tandasnya.( Tribunjogja.com )
| Dinkop UKM DIY dan Iwapi Bantul Gelar Pameran Produk Disabilitas di Stadion Sultan Agung |
|
|---|
| Sejumlah Titik di Bantul Longsor Terdampak Hujan Deras |
|
|---|
| 13 Orang Meninggal Karena Laka Air hingga Pekan Kedua Desember 2024, Ini Pesan Polres Bantul |
|
|---|
| Festival Inspirasi Pendidikan Kabupaten Bantul 2024, Jadi Sarana Peringati PGRI dan HKN |
|
|---|
| Natal dan Tahun Baru, Stok Kebutuhan LPG 3 Kg di Bantul Disebut Aman |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Jelajah-Wisata-Hutan-Pinus-Mangunan.jpg)