Berita Purworejo

Spanduk Tolak Retribusi 100 Persen Bergema di Pasar Baledono, Ini Penjelasan DKUKMP Purworejo

Sejumlah pedagang di Pasar Baledono, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, menolak membayar retribusi secara penuh atau 100 persen.

Penulis: Dewi Rukmini | Editor: Gaya Lufityanti
Tribunjogja.com/Dewi Rukmini
Spanduk penolakan para pedagang untuk membayar retribusi 100 persen terlihat di sejumlah titik di Pasar Baledono, Kabupaten Purworejo, Selasa (12/12/2023). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Dewi Rukmini

TRIBUNJOGJA.COM, PURWOREJO - Sejumlah pedagang di Pasar Baledono, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, menolak membayar retribusi secara penuh atau 100 persen.

Bentuk penolakan itu dituangkan dalam spanduk bertuliskan "Pedagang Pasar Baledono Tolak Retribusi 100 persen". 

Pantauan Tribunjogja.com , spanduk-spanduk itu dipasang di sejumlah titik di sekitar Pasar Baledono .

Antara lain di depan jalan masuk utama lantai bawah Pasar Baledono , di area dropout mobil lantai dua, dan tembok bagian utara pasar (depan pedagang durian musiman). 

Seorang pedagang sepatu dan sandal di Pasar Baledono , Nur Qosim (53), mengaku keberatan membayar secara penuh retribusi yang ditetapkan di Pasar Baledono .

Sebab, kondisi pasar saat ini masih sepi pembeli.

Sehingga, jika membayar retribusi Rp1.500 per meter persegi tiap hari dirasa sangat berat. 

"Saya ada tiga tempat (kios) berukuran 2x4, 2x4, dan 3x4. Setiap hari retribusi yang harus saya bayar sekitar Rp60 ribu lebih. Padahal kondisi pasar masih sepi. Kalau mengandalkan eceran (jualan offline) setiap hari cuma dapat Rp200 ribu di tiga tempat itu," ucapnya kepada Tribunjogja.com , Selasa (12/12/2023).

Menurut Nur, para pedagang di Pasar Baledono ingin membayar retribusi 50 persen seperti yang telah dilaksanakan satu tahun belakangan.

Baca juga: Arakan Khotmil Quran dan Atraksi Kuda Jingkrak Pada Peringatan Maulud Nabi di Baledono Purworejo

Namun, dikatakan kebijakan itu telah selesai masanya, sehingga tarif retribusi yang harus dibayarkan kembali 100 persen.

Padahal, seringkali pedagang di Pasar Baledono tidak menjual dagangan dalam satu hari.

Hal itu terjadi karena sepinya pelangan yang membeli kebutuhan tersier, tidak seperti dahulu.

"Beberapa kali saya sudah mengajukan keringanan retribusi, tapi selalu gagal, tidak pernah disetujui. Alasannya saya kurang tahu," ujar dia.

Lantas, Nur juga membandingkan harga retribusi pasar di daerah Magelang yang lebih murah ketimbang Pasar Baledono

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved