DPKH Gunungkidul Sebut Kasus LSD Melandai, Stok Hewan Kurban

Hingga 8 Juni lalu, tercatat ada 19 kasus sembuh sehingga jumlah kasus aktif LSD berkurang menjadi 1.553 ekor di Gunungkidul

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUN JOGJA/Alexander Ermando
Sejumlah sapi di Pasar Hewan Siyono Harjo Playen, Gunungkidul, belum lama ini. DPKH Gunungkidul klaim penyakit ternak tak pengaruhi kurban Iduladha tahun ini. 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul meningkatkan pemantauan kesehatan hewan jelang perayaam Iduladha.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan, DPKH Gunungkidul, Retno Widyastuti optimis penyebaran penyakit ternak tak pengaruhi kurban Iduladha.

"Apalagi saat ini grafik penyebarannya sudah menurun," kata Retno, Minggu (11/06/2023).

Ia mencontohkan penyebaran kasus Lumpy Skin Disease (LSD). Hingga 8 Juni lalu, tercatat ada 19 kasus sembuh sehingga jumlah kasus aktif LSD berkurang menjadi 1.553 ekor.

Sementara untuk Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), di periode yang sama tercatat 11 kasus baru dan 2 ekor mati. Meski begitu kasus aktifnya terbilang sedikit, yaitu hanya 214 ekor.

Menurut Retno, saat ini juga lebih banyak ternak yang sedang dalam pemulihan setelah terpapar penyakit. Populasi ternak siap potong juga tinggi, yaitu sebanyak 46.875 ekor.

"Berkaca dari kebutuhan kurban di 2022, stok tahun ini terbilang masih longgar (cukup)," ujarnya.

Baca juga: Harga Sapi untuk Hewan Kurban di Bantul Merangkak Naik, Ternyata Ini Penyebabnya

Pada 2022 lalu, kebutuhan kurban dari Gunungkidul mencapai 20.101 ekor. Kebutuhan ini tak hanya dari dalam Gunungkidul, tetapi juga hingga luar daerah.

Transaksi penjualan ternak pun saat ini juga terbilang normal. Saat ini juga sudah ada pengiriman ternak dari Gunungkidul ke luar daerah.

"Harganya juga sudah bersaing untuk ternak siap potong," kata Retno.

DPKH Gunungkidul saat ini lebih mengintensifkan pemantauan hingga mendekati hari H Iduladha. Surat Edaran (SE) juga sedang disiapkan untuk penanganan hewan kurban.

Pengelola Pasar Hewan Siyono Harjo, Playen, Isnaning Suindarti juga mengatakan jika transaksi penjualan hewan sudah berangsur normal. Temuan kasus baru pun terbilang minim.

"Pemilik hewan saat ini sudah paham, kalau ada hewan yang sakit maka tidak akan dibawa ke pasar," ujar Isnaning belum lama ini.(alx)
 

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved