Mutiara Ramadan
Kebersihan Jiwa
BULAN Ramadan adalah bulan yang diharapkan kehadirannya oleh umat Islam, kedatangannya ditunggu-tunggu.
Oleh: Ismunandar SPdI MPd, Guru MTsN 5 Kulon Progo
TRIBUNJOGJA.COM - BULAN Ramadan adalah bulan yang diharapkan kehadirannya oleh umat Islam.
Kedatangannya sangatlah diharapkan setelah sebelas bulan yang lalu melewatinya.
Kesiapan fisik dan jiwa dalam menjalaninya patut dan sangatlah perlu di laksanakan secara maksimal secara utuh dan menyeluruh.
Ketika terlewatkan sedikitpun niscaya kita akan mengalami kerugian. Karena belum tentu kita dapat menemui lagi Ramadan di tahun yang akan datang.
Orientasi melaksanakan ibadah Ramadan adalah ketakwaan sesuai dalam Quran surat Al Baqarah ayat 183.
Namun apakah ketakwaan itu? Tentu perlu dilatarbelakangi oleh usaha ikhtiar yang maksimal dalam menjalankannya.
Bukan serta merta terwujud karena jika ini yang diharapkan harus ada ikhtiar proses menjalaninya baik lahir maupun batin.
Karena peran dari bulan suci Ramadan adalah bulan bengkel jiwa kita yang digunakan secara terus-menerus.
Ketika amaliah fisik sudah dilaksanakan namun amaliah jiwa atau batiniah perlu diikhtiari sehingga pada akhirnya nanti tumbuhlah jiwa-jiwa yang baik atau bercahaya.
Bagaimanakah kita mengisi momentum bulan suci Ramadan tahun ini dengan ikhtiar kebersihan jiwa kita? Pertama, instrospeksi diri (Muhasabah).
Pelaksanaan dari instrospeksi diri adalah melakukan identifikasi apa saja penyakit jiwa atau ruhani kita selama sebelas bulan yang lampau. Kesadaran mengoreksi diri sendiri tentunya sangat penting dan utama meskipun sangat berat untuk dijalaninya.
Kedua, bertaubat, yakni memperbaiki diri dengan kembali ke jalan yang benar. Kemauan memperbaiki diri merupakan tindak lanjut dari perilaku muhasabah.
Ketika kita melakukan muhasabah diri, kita akan menemukan kekurangan atau kelemahan diri. Nah, kekurangan dan kelemahan tersebut harus segera diperbaiki.
Sungguh sangat merugi orang yang hanya pandai mengidentifikasi kelemahan diri tetapi tidak memperbaikinya. Momentum Ramadan inilah tempatnya kita memperbanyak memohon ampunan Allah SWT di setiap saat dan waktu.
Ketiga, Taddabur Alquran, yakni menelaah isi dari kandungan kitab Alquran, lalu menghayatinya dan mengamalkan.
Jiwa ini bagaikan tumbuhan yang harus senantiasa dirawat dan dipupuk ketika ada hama yang menyerang segera diantisipasi dengan pestisida.
Ketika jiwa kita yang berpenyakit maka segera dicarikan solusi. Usaha merawat dan memupuk jiwa-jiwa kita yang gersang sedang gundah gulana dan lainnya melalui taddabur Alquran.
Keempat, memelihara amal shalih. Amal shalih atau amal baik adalah setiap ucapan atau perbuatan yang dicintai dan diridhai Allah SWT.
Apabila kita ingin memiliki jiwa yang baik, jagalah keberlangsungan amal baik, sekecil apapun amal tersebut.
Kelima, mengisi waktu dengan dzikir. Dzikir adalah ingat atau mengingat. Dzikrullah berarti selalu mengingat Allah SWT.
Ditinjau dari segi bentuknya, ada dua macam dzikir, pertama dzikir lisan artinya ingat kepada Allah dengan melafalkan kalimat dzikir seperti Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, La ilaha illallah.
Kemudian dzikir amaliyah, artinya ingat Allah dalam bentuk perbuatan seperti salat, jujur, amanah, puasa, dan sebagainya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/mutiara-ismunandar.jpg)