Perang Rusia Vs Ukraina
Medvedev Peringatkan Konflik Dunia, Rusia Siap Gunakan Senjata Nuklir
Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev memperingatkan potensi konflik dunia, dan Rusia menyatakan siap menggunakan senjata nuklirnya.
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
TRIBUNJOGJA.COM, MOSKOW – Wakil Ketua Dewan Keamanan Nasional Rusia, Dmitry Medvedev secara lugas menyatakan Rusia siap melanjutkan perang dengan cara dan senjata apapun.
Termasuk menggunakan senjata nuklir. Lewat kanal Telegram miliknya yang terverifikasi, Rabu (22/2/2023), Medvedev kembali menyebut perang dikobarkan oleh AS.
Mantan Presiden Rusia itu mengatakan, keputusan perang AS lebh buruk dari kejahatan. Menurutnya ini kesalahan besar orang Amerika.
Kesalahan yang dihasilkan para mania grandiose yang memiliki rasa superioritas dan impunitas di mana-mana.
“Jika Amerika menginginkan kekalahan Rusia, kita di ambang konflik dunia,” tulis Medvedev.
“Jika AS ingin mengalahkan Rusia, kami berhak membela diri dengan senjata apapun, termasuk nuklir,” lanjut Medvedev.
Baca juga: Putin Sudah Teken Dekrit Senjata Nuklir Berbasis Darat Siap Tempur
Baca juga: Presiden Putin : Rusia Tak Menggertak Jika Harus Pakai Senjata Nuklir
Baca juga: Komando Strategis AS Atur Strategi Baru Hadapi Ancaman Nuklir Rusia dan China
Pernyataan Dmitri Medvedev ini selaras sikap Presiden Rusia Vladimir Putin, yang menunda pembahasan traktat nuklir Rusia-AS atau START.
Pada pidatonya di depan Majelis Federasi Rusia, Vladimir Putin menegaskan Rusia tak mungkin dikalahkan di medan perang.
“Tidak mungkin mengalahkan Rusia di medan perang,” kata Putin. Penundaan negosiasi perpanjangan traktat START membuat kini tak ada lagi kontrol pengembangan hulu ledak nuklir.
Pidato Putin bersamaan kunjungan Presiden AS Joe Biden ke Warsawa, Polandia. Biden mengikuti parade yang menunjukkan persekutuan barat melawan Rusia.
Sehari sebelumnya, Biden berkunjung ke Kiev, bertemu Presiden Ukraina Volodymir Zelensky dan menjanjikan bantuan senjata dan peluru lebih banyak lagi.
Mantan Presiden AS Donald Trump di Florida mengecam para penghasut perang, dan globalis di pemerintahan AS, yang sangat bersemangat mengobarkan perang melawan Rusia.
Di Eropa Timur, atau tepatnya dari kawasan Balkan, Presiden Serbia Aleksandr Vucic memperingatkan semua pihak di Eropa kini bersiap untuk hadapi perang.
Ini terlihat dari begitu banyak permintaan senjata dan amunisi ke Serbia. Beograd mengatakan mendapat untung dari perlombaan senjata dan amunisi itu.
Menurut Presiden Aleksandar Vucic industri militer Serbia telah menggenjot produksi senjata dan amunisi untuk memenuhi permintaan yang meroket akibat konflik di Ukraina.
Vucic mengunjungi pameran senjata IDEX di Uni Emirat Arab. Vucic sekali lagi mengatakan dunia sedang mempersiapkan perang.
“Semua orang membutuhkan amunisi. Setiap orang membeli segalanya, apa pun yang bisa kami hasilkan akan dijual, ”kata Vucic.
"Saya tidak tahu bagaimana beberapa barang ini belum berakhir di medan perang Ukraina," katanya.
Permintaan untuk hal-hal seperti roket untuk sistem peluncur ganda 'Grad' telah meningkat sebesar 70 persen.
Presiden Serbia mencatat Beograd ingin memperluas beberapa produksi amunisinya, karena semuanya meminta.
"Amunisi laris manis seperti kacang goreng," kata Vucic.
Rusia mengklaim menggunakan 35.000 putaran tembakan per hari, dan Ukraina sekitar 16.000, yang bertambah selama setahun.
“Serbia berusaha menahan setidaknya beberapa perangkat keras untuk kebutuhannya sendiri,” kata Vucic.
“Tentara kita dan negara kita harus didahulukan. Setidaknya 30 persen dari semua yang dibuat di Serbia harus tetap di Serbia,” katanya kepada wartawan.
“Kami hanya bisa menjual apa yang bisa kami sisakan. Semua orang ingin berperang, semua orang bersiap untuk perang," imbuhnya.
Khawatir dengan lingkungannya sendiri, Beograd juga mengimpor apa pun yang bisa, termasuk tawaran untuk jet tempur Rafale dari Prancis.
Menurut Vucic, kontrak dengan Emirates untuk drone kamikaze harus ditandatangani akhir pekan ini.
“Kami dikelilingi oleh negara-negara NATO. Bosnia-Herzegovina bukan (anggota), tetapi pasukan NATO juga ada di sana, juga di bagian wilayah kami sendiri, di Kosovo,” kata Presiden Serbia itu.
Dimintai komentar tentang situasi di Ukraina, Vucic mengatakan dia mengharapkan perubahan besar di medan perang dalam dua hingga tiga hari ke depan, yang dapat menyebabkan tekanan barat lebih lanjut terhadap Serbia.
Vucic sejauh ini menolak tuntutan AS dan UE untuk memberikan sanksi kepada Rusia, bersikeras pada netralitas militer Beograd dalam konflik yang sedang berlangsung.
Pameran pertahanan global IDEX 2023, yang diadakan di Abu Dhabi, adalah salah satu pameran senjata terbesar di dunia.
Acara minggu ini dihadiri 1.350 vendor dari 65 negara. Selain amunisi, Serbia mengiklankan howitzer self-propelled Nora dan kendaraan lapis baja Lazar dan Milos.(Tribunjogja.com/RussiaToday/xna)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-ledakan-nuklir.jpg)