Politik Global

Pentagon Awasi Balon Intai Diduga Milik China Terbang di Langit Montana

Pentagon mengawasi balon udara yang diduga milik China yang terbang di langit negara bagian Montana, AS.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
defense.gov
Gedung Kementerian Pertahanan AS atau juga kerap disebut Gedung Pentagon. Di gedung inilah semua keputusan militer dan pertahanan AS di dalam maupun luar negeri diatur. 

TRIBUNJOGJA.COM, WASHINGTON - Pentagon telah melihat apa yang diyakini sebagai balon pengintai di belahan utara AS dan memantaunya secara cermat.

Gedung Putih telah menyarankan untuk tidak mengambil tindakan militer untuk menembak jatuh balon tersebut yang disebut milik China.

Pertama kali balon terlihat di langit pada Rabu (2/1/2023) waktu setempat. Belum ada kepastian apakah betul balon udara tersebut milik China atau pihak lain.

Juru bicara Pentagon Brigjen Pat Ryder mengumumkan pemerintah AS telah mendeteksi dan melacak balon pengintai ketinggian tinggi yang berada di atas benua AS.

Mereka mengawasinya secara cermat. Balon tersebut terakhir dikonfirmasi terlihat di langit di atas Billings, Montana, namun lokasinya saat ini belum diungkapkan.

Dalam pertemuan Rabu yang dipimpin Menteri Pertahanan Lloyd Austin, pejabat tinggi militer membahas bagaimana menanggapi balon tersebut.

Mereka lalu memberi pengarahan kepada Gedung Putih tentang lokasinya, memastikan balon tersebut tidak menimbulkan ancaman bagi pesawat karena ketinggiannya.

Baca juga: Tantang Hegemoni Barat, China Intens Garap Benua Afrika

Baca juga: Presiden Macron : Eropa Mau Ikut China, AS, atau Mandiri?

Baca juga: China Protes Keras Manuver Berbahaya Pesawat Mata-mata AS

Militer masih mempertimbangkan opsi untuk menembak jatuh.

“Saat ini kami menilai balon itu terbatas dari perspektif pengumpulan intelijen di atas apa yang dapat dilakukan China melalui cara lain,” kata seorang pejabat senior pertahanan.

“Namun demikian, kami mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi intelijen asing yang mengumpulkan informasi sensitif,” katanya meyakinkan.

Departemen Pertahanan telah menyatakan yakin balon itu milik China, dan pejabat AS telah berkomunikasi dengan Beijing karena semua opsi tetap ada untuk langkah selanjutnya.

Beijing, hingga Jumat, belum menyampaikan tanggapan atas penemuan balon tersebut.

Insiden itu terjadi beberapa hari sebelum rencana perjalanan ke Beijing oleh Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, kunjungan tingkat tinggi pertama ke China sejak 2020.

Ketegangan politik dan ekonomi China-AS belum mereda sekalipun usaha-usaha mencari solusi dilakukan kedua pihak.

Washington terus  mengkampanyekan isu pelanggaran HAM di Xinjiang, yang berdampak pada rantai pasokan barang industri dari Uyghur.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved