Tol Yogyakarta Solo

Campur Aduk Perasaan Miliarder dari Klaten Setelah Terima UGR Tol Jogja-Solo Rp 5,5 Miliar

Adalah Tri Wiyono (40), seorang warga Desa Joton, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, Jawa tengah yang menjadi miliarder baru.

Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM/ ALMURFI SYOFYAN
Tri Wiyono saat berfoto pada proses pembayaran uang ganti rugi terdampak tol di Balai Desa Joton, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, Selasa (10/1/2023). 

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Menjadi miliarder ternyata tidak serta-merta membuat seseorang otomatif senang dan bahagia.

Bahkan, seorang penerima uang ganti rugi proyek pembangunan tol Yogyakarta-Solo di Klaten, menunjukkan kesedihan mendalam.

Adalah Tri Wiyono (40), seorang warga Desa Joton, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, Jawa tengah yang menjadi miliarder baru.

Itu tidak lain karena dia baru saja menerima pembayaran uang ganti rugi (UGR) tanah terdampak pembangunan jalan tol Yogyakarta-Solo senilai Rp 5,5 miliar.

Walaupun menjadi miliarder baru di desanya, Tri Wiyono mengaku sedih karena rumahnya dan tiga rumah lainnya yang berada di satu bidang tanah harus tergusur proyek tol.

Pengendara sepeda motor melintas di depan rumah yang dibongkar pemiliknya akibat diterjang proyek tol di Jalan Jogja-Solo, Desa Somopuro, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, Selasa (11/10/2022).
Pengendara sepeda motor melintas di depan rumah yang dibongkar pemiliknya akibat diterjang proyek tol di Jalan Jogja-Solo, Desa Somopuro, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, Selasa (11/10/2022). (TRIBUNJOGJA.COM / Almurfi Syofyan)

Padahal empat rumah yang berada di satu bidang tanah itu menyimpan banyak cerita dan kenangan dari keluarganya.

"Yang kena rumah, ada empat rumah dalam satu pekarangan, ada empat keluarga," ujarnya pada TribunJogja.com ditemui di sela pembayaran UGR tol di balai desa Joton, Selasa (10/1/2023).

Menurutnya, saat mendapatkan ganti rugi itu dirinya mendapatkan perasaan campur aduk.

"Dibilang senang ya senang dibilang susah ya susah sih. Soalnya sedihnya kita harus cabut dari sini, satu keluarga. Kita nggak menyatu lagi dengan satu keluarga," ucapnya.

"Kalau enaknya, ya nggak punya uang segitu tapi tahu-tahu punya uang segitu," tambahnya.

Ia menyebut nilai UGR yang didapatkan dari proyek tol itu sudah melebihi harga tanah normal di desanya.

"Kalau dibanding harga standar ini lebih tinggi, tanahnya warisan simbah, disana tinggal pakde, ibu, adik dan kakak juga disitu," ucapnya.

Kemudian, lanjut Tri Wiyono, dirinya berencana mau membangun rumah baru di wilayah Desa Tambakan dekat Taman Kelinci.

Menurutnya, dirinya sudah lama mendengar kabar adanya proyek tol tersebut tetapi tak memiliki firasat kalau rumahnya akan kena tol.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved