Perang Rusia Vs Ukraina

Yunani Kirim Ranpur BMP-1 ke Ukraina, Ditukar Marder dari Jerman

Yunani mengirimkan kendaraan tempur BMP-1 eks Jerman Timur ke Ukraina dan mendapat ganti ranpur Marder dari Jerman.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
Bundeswehr
Tank Leopard dioperasikan Angkatan Bersenjata Jerman atau Bundeswehr. Menghadapi perubahan peta politik dan konflik terkini, Jerman mereformasi militernya dari pasif menjadi lebih agresif secara anggaran maupun kemampuan persenjataannya. 

TRIBUNJOGJA.COM, ATHENA – Pemerintah Yunani dan Jerman mencapai kesepakatan tentang pengiriman kendaraan tempur pengangkut personil IFV Marder Jerman ke Yunani.

Kendaraan tempur baru ini akan menggantikan kendaraan angkut personi BMP-1 bekas Jerman Timur yang dikirim Yunani ke Ukraina sebagai bantuan militer.

Menteri Pertahanan Yunani Nikolaos Panagiotopoulos dan mitranya dari Jerman, Christine Lambrecht, membahas kesepakatan itu lewat telepon, Senin (9/1/2023).

Kesepakatan itu berarti barter. Yunani mengirim ranpur ke Yunani, dan Jerman menggantinya produk ranpur Marder.

“Masalah terkait implementasi perjanjian pasokan kendaraan infanteri lapis baja BMP-1 ke Ukraina oleh negara kami bersama dengan penggantiannya dengan kendaraan infanteri lapis baja Marder buatan Jerman juga dibahas,” kata Kemenhan Yunani dala sebuah pernyataan.

Selama pembicaraan telepon itu, kedua pejabat membahas kerja sama pertahanan bilateral dan perkembangan terakhir di Ukraina.

Baca juga: Pejabat Ukraina Takut-takuti Jerman Jika Tak Kirim Tank Leopard 2

Baca juga: Media Jerman Andil Besar Dorong Militansi dan Konfrontasi Melawan Rusia

Baca juga: Jerman Kirim Howitzer ke Ukraina, Bulgaria Pasok Senjata Ringan dan Peluru

Athena dan Berlin setuju Yunani akan menerima jumlah yang sama dari IFV Marder daripada IFV BMP-1 buatan Jerman Timur yang dikirim ke Ukraina, yang telah diterima Yunani pada 1994.

Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan pada Juni Jerman akan mengirim kendaraan tempur infanteri ke Yunani sehingga pemerintah Yunani dapat mentransfer senjata gaya Soviet ke Ukraina.

Setelah KTT Uni Eropa dua hari di Brussel, Scholz mengatakan kepada wartawan, Berlin akan memberi Yunani kendaraan tempur infanteri Jerman.

Scholz saat itu tidak merinci jenis kendaraan tempur infanteri apa yang akan diberikan Berlin ke Yunani atau senjata apa yang akan diberikan Athena ke Kiev.

Namun, sumber pertahanan pada saat itu mengatakan bahwa Berlin bermaksud untuk mengirimkan ke Yunani 100 IFV Marder tua yang dimiliki Rheinmetall.

Yunani menerima 10 Marder dari 40 BMP-1 yang dikirimnya ke Ukraina per November.

Selama kunjungan Menteri Luar Negeri Yunani Nikos Dendias ke Kiev pada Oktober 2022, mitranya dari Ukraina mengatakan Yunani telah mulai mentransfer BMP-1 ke Ukraina.

Panagiotopoulos menyatakan pada Desember negaranya bersedia mengirim sistem pertahanan udara S-300 dari pulau Kreta ke Ukraina jika AS memasang sistem Patriot di tempatnya.

Perwakilan Tetap Krimea untuk Presiden Rusia Georgiy Muradov menggambarkan niat Athena untuk mentransfer sistem rudal anti-pesawat S-300 ke Ukraina sebagai "langkah berisiko".

"Langkah Athena seperti itu tidak hanya akan menjadi demonstrasi permusuhan yang tidak masuk akal terhadap Rusia,” katanya.

“Langkah itu juga berisiko terhadap kepentingan nasionalnya sendiri, yang telah diumumkan dengan lantang oleh publik Yunani," kata Muradov kepada kantor berita Rusia Sputnik.

Kepala Staf Umum Pertahanan Nasional Yunani, Jenderal Konstantinos Floros, mengatakan Yunani tidak mempertimbangkan transfer sistem pertahanan udara S-300 Rusia ke Ukraina.

"Jelas, kami tidak mempertimbangkan relokasi atau transfer senjata, itu akan melemahkan kemampuan pertahanan negara," kata Floros.

Bantuan senjata terus mengalir dari berbagai negara NATO ke Ukraina. AS termasuk yang paling besar menggelontorkan bantuan.

Risiko Kirim Ranpur Bradley

Duta Besar Rusia untuk AS, Anatoly Antonov, menyatakan pemerintah AS tak tertarik penyelesaian konflik Rusia-Ukraina secara damai.

Anatoly Antonov menunjuk keputusan Washington untuk memasok Kiev dengan kendaraan tempur Bradley, dan rencana Jerman serta Prancis yang akan mengirim rudal Patriot serta tank AMX-10.

Menurut Antonov, AS bahkan belum mencoba mendengarkan peringatan Rusia terhadap jalan berbahaya semacam itu.

“AS melepaskan perang proksi nyata melawan Rusia dengan mendukung penjahat Nazi di Kiev pada awal 2014,” kata Dubes Antonov dikutip Sputniknews dan Russia Today, Jumat (6/1/2023).

Ia mengacu kudeta yang menggulingkan presiden yang terpilih secara demokratis, Viktor Yanukovich pada 2014.

“Setiap pembicaraan tentang sifat defensive senjata yang dipasok ke Ukraina telah lama menjadi tidak masuk akal,” tambahnya.

Utusan itu mengklaim pengiriman senjata barat hanya mendorong kaum radikal Ukraina untuk melakukan perbuatan buruk.

Juga akan menambah perasaan impunitas mereka. Mereka terus membunuh warga sipil di Donbass, Zaporozhye dan Kherson di Federasi Rusia.

“Tidak seorang pun harus meragukan siapa yang memikul tanggung jawab untuk memperpanjang konflik ini,” katanya.

Menurut Antonov, semua tindakan pemerintah AS menunjukkan kurangnya keinginan untuk penyelesaian secara politik.

Duta Besar Rusia itu menyoroti reaksi Presiden AS Joe Biden terhadap usulan gencatan senjata 36 jam pada perayaan Natal Ortodoks yang diumumkan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Presiden AS menolak tawaran Moskow, dengan mengatakan, "Saya enggan menanggapi apa pun yang dikatakan Putin. Saya pikir dia mencoba mencari oksigen," kata Biden saat ditanya.

“Semua ini berarti Washington berkomitmen untuk berperang bersama kami hingga Ukraina terakhir, sementara nasib rakyat Ukraina tidak berarti apa-apa bagi AS,” kata diplomat itu.

Gencatan senjata yang diusulkan Putin juga dicap munafik oleh pejabat Ukraina, dengan Presiden Vladimir Zelensky menyebutnya sebagai tipu muslihat.

"Semua orang di dunia tahu bagaimana Kremlin menggunakan gencatan senjata untuk melanjutkan perang dengan semangat baru," kata Zelensky di rekaman video yang diedarkan.

Pemerintah AS akan memasok Ukraina dengan sejumlah pengangkut personel lapis baja dalam paket bantuan yang akan datang.

Seorang pejabat militer senior menggambarkan bantuan itu sebagai pembunuh tank.

Langkah ini mengikuti laporan Washington masih menolak untuk mempertimbangkan lapis baja yang lebih berat untuk Kiev, meskipun ada permintaan berulang kali untuk tank tempur utama Abrams.

Juru bicara Pentagon Pat Ryder mengumumkan bantuan terbaru pada Kamis. Ia mengatakan Kiev akan menerima Bradley Fighting Vehicle dalam jumlah yang tidak ditentukan.

“Ini jelas merupakan kemampuan lapis baja yang dapat mengangkut infanteri mekanis ke dalam pertempuran untuk mendukung operasi ofensif dan defensif,” katanya.

Ranpur itu menurut Ryder memiliki tingkat daya tembak dan lapis baja yang akan membawa keuntungan di medan perang.

“Ini bukan tank, tapi pembunuh tank,” imbuhnya. Sumber lain mengatakan akan ada 50 Bradley yang dikirim ke Kiev.

Kiev telah meminta senjata yang semakin berat selama konflik, khususnya meminta tank tempur utama M1 Abrams.

Namun, pejabat AS terus mengesampingkan permintaan tank tempur berat berukuran 60 ton itu karena sejumlah pertimbangan.

Dikembangkan pada 1980-an untuk bersaing dengan kendaraan tempur BMP Soviet, Bradley dirancang untuk mengangkut dan memberikan perlindungan bagi infanteri.

Ranpur M3 Bradley biasanya dioperasikan tiga awak, dan memiliki ruang ekstra untuk pasukan pengintai dan rudal BGM-71 TOW dan senjata anti-tank.(Tribunjogja.com/RussiaToday/Almayadeen/xna)

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved