Perang Rusia Vs Ukraina

Media Jerman Andil Besar Dorong Militansi dan Konfrontasi Melawan Rusia

Studi Universitas Mainz Jerman menunjukkan media utama Jerman punya andil besar membangkitkan militansi antiRusia dan mendorong perang Ukraina.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
Bundeswehr
Tank Leopard dioperasikan Angkatan Bersenjata Jerman atau Bundeswehr. Menghadapi perubahan peta politik dan konflik terkini, Jerman mereformasi militernya dari pasif menjadi lebih agresif secara anggaran maupun kemampuan persenjataannya. 

TRIBUNJOGJA.COM, BERLIN – Sebuah studi yang dilakukan menyimpulkan media Jerman punya andil besar membangkitkan militansi di masyarakat dan bekerja untuk mencegah negosiasi dengan Rusia.

Pers Jerman lewat pemberitaannya juga mendorong semangat konfrontasi dengan Moskow di negara paling kuat di Uni Eropa ini.

Studi dilakukan tim University of Mainz, terhadap liputan berita Jerman tentang peristiwa di Ukraina, dan tanggapan resmi Berlin terhadap krisis tersebut.

Kesimpulan mengkonfirmasi sejak 24 Februari, media telah memainkan peran utama dalam menjaga konflik tetap berlangsung, dan negosiasi mengecil kemungkinannya.

Konten-konten  yang diproduksi bernada pro-perang, anti-Rusia yang bias secara universal diterbitkan di semua tahapan pemberitaan.

Dikutip Russia Today, Jumat (23/12/2022), para peneliti di universitas menganalisis laporan berbahasa Jerman tentang konflik Ukraina antara 24 Februari hingga 31 Mei 2022.

Baca juga: Jerman Kirim Howitzer ke Ukraina, Bulgaria Pasok Senjata Ringan dan Peluru

Baca juga: Tentara Ukraina Pakai Simbol Pasukan Nazi Jerman saat Masuki Kota Kherson

Ada 4.300 artikel terpisah yang diriset diterbitkan delapan surat kabar dan stasiun TV terkemuka di negara itu: FAZ, Suddeutsche Zeitung, Bild, Spiegel, Zeit, ARD Tagesschau, ZDF Today, dan RTL Aktuell.

Hasilnya, Ukraina digambarkan secara positif di 64 persen dari semua liputan, dan Presiden Vladimir Zelensky di 67 persen.

Sebaliknya, Rusia digambarkan hampir secara eksklusif negative sebanyak 88 persen, dan Presiden Vladimir Putin dalam 96 persen kasus negatif.

Hampir semua laporan – total 93 persen – mengaitkan satu-satunya kesalahan atas perang tersebut dengan Putin dan/atau Rusia.

Barat disebut sebagai bertanggung jawab Bersama hanya dalam empat persen kasus, Ukraina bahkan kurang dari dua persen.

Perspektif Rusia tentang konflik hanya dipertimbangkan atau disebutkan dalam 10 persen laporan berita, kurang dari sudut pandang negara lain mana pun, termasuk tetangga Moskow.

Kelompok Alternatif untuk Jerman dan Partai Kiri, yang sama-sama menentang mempersenjatai Ukraina dan memperpanjang perang, praktis tidak mendapat tempat di media.

Pesan dan pernyataan pemerintah dari para menteri benar-benar dominan, menjadi fokus dalam 80 persen liputan berita, lebih dari empat kali lipat angka partai oposisi.

Dalam diskusi media tentang langkah-langkah yang paling mungkin untuk mengakhiri perang, sanksi ekonomi terhadap Rusia adalah yang paling sering dilaporkan, dan disetujui dalam 66 persen kasus.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved