Berita Bantul Hari Ini

Angka TBC di Bantul Capai 1.216 Kasus

Sebanyak 1.216 kasus TBC tersebut masih 50 persen dari estimasi 2.431 kasus TBC di Kabupaten Bantul .

Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Santo Ari
Dinkes Bantul dan SSR Sinergi Sehat Indonesia memberikan pemaparan tentang TBC, di Hotel Ros In, Rabu (21/12/2022) 

TRIBUNJOGJA.COM - Pengendalian penyakit Tuberkulosis termasuk satu dari lima prioritas kesehatan nasional.

Di Kabupaten Bantul , pada bulan Januari sampai November 2022, Dinas Kesehatan mencatat ada 1.216 kasus TBC yang ditemukan di seluruh fasilitas kesehatan di Kabupaten Bantul .

Kepala Dinkes Bantul , Agus Budi Raharja menjelaskan sebanyak 1.216 kasus TBC tersebut masih 50 persen dari estimasi 2.431 kasus TBC di Kabupaten Bantul .

Artinya masih banyak orang dengan TBC yang masih belum ditemukan dan diobati.

“Kemudian dari 1.216 ada 619 diantaranya adalah kasus TBC anak dan 12 kasus pasien TBC resisten obat,” ujarnya Rabu (21/12/2022).

Menurutnya, anak berisiko tinggi tertular orang tua yang menderita TBC .

Baca juga: Percepatan Eliminasi TBC 2030, PT Johnson & Johnson Indonesia Bidik Anak Muda Lewat Game TB Warriors

Selain itu tidak semua anak mendapatkan gizi yang tercukupi sehingga membuat anak semakin rentan tertular.    

“Misalnya anak sering digendong, diciumi orang-orang dewasa, itu berisko terjadinya penularan. Apalagi saat ini angka stunting dan kurang gizi juga masih tinggi,” katanya.

Selain masih banyaknya estimasi orang dengan TBC yang belum ditemukan, angka pasien yang putus berobat TBC di Kabupaten Bantul juga cukup tinggi yaitu sebesar 3,93 persen dari jumlah pasien yang diobati tahun 2021.
 
Menurut Agus Budi, pasien yang tidak menjalani pengobatan sampai tuntas dikhawatirkan akan membuat pasien terkena TBC Resisten Obat, tidak sembuh dan bisa menulari orang lain.

Oleh karena itu pendampingan bagi pasien TBC agar dapat menjalani pengobatan sampai tuntas sangat dibutuhkan.

TBC itu pasti bisa disembuhkan kalau dia minum obat, rutin, tidak putus selama kurung waktu dosis yang ada, biasanya 6 bulan. Berbagai alasan menjadi penyebab pasien berhenti minum obat, seperti lupa dan kurangnya pemahaman terkait pengobatan TBC ,” ucapnya.

“Maka kalau sudah ketemu harus ada pendamping minum obat (PMO) di keluarga, karena potensi lupa itu tinggi sekali kalau pengobatannya dalam kurun waktu lama,” ucapnya.

Dengan masih banyaknya pasien yang belum terdeteksi, dirinya pun mengimbau agar masyarakat dapat segera memeriksakan diri jika mengalami gejala-gejala TBC , seperti batuk dalam kurun waktu lama yang disertai demam dan penurunan berat badan. Jika ada gejala tersebut, maka harus segera diperiksakan ke puskesmas dan bersedia diambil sampel dahaknya.  

Baca juga: Pemkot Yogyakarta Gulirkan Skrining TBC untuk Pedagang Pasar Tradisional

Sebagai upaya untuk mengantisipasi penyebaran TBC , Bupati Bantul telah menginstruksikan Dinkes untuk melakukan screening, terutama di komunitas-komunitas seperti pondok pesantren, sekolah dan perusahaan-perusahaan.

“Bupati menginstruksi ke kita untuk screening pesantren dengan dimulai target 10 ribu santri di 4 pesantren besar. dan akan diikuti pesantren yang lain. Ini peluang kita untuk penanggulangan TBC , jika sudah berhasil di pesantren, harusnya lebih mudah untk screening ke sekolah-sekolah termasuk pabrik-pabrik di Bantul ,” katanya.  

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved