Perang Rusia Ukraina

Senjata Arhanud Bantuan Jerman ke Ukraina Bertumbangan di Medan Perang

Senjata artileri pertahanan udara (Arhanud) bantuan Jerman ke Ukraina banyak yang rusak karena intensitas penggunaan dan peluru yang tak kompatibel.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
JACK GUEZ / AFP
Laras howitzer, senjata artileri Ukraina mengeluarkan asap setelah penembakan. Jerman mengirimkan howitzer Panzerhaubitze 2000 ke Ukraina. Setengah dari jumlah yang dikirim kini rusak karena penggunaan intensitas tinggi, ketiadaan suku cadang. 

TRIBUNJOGJA.COM, BERLIN – Sistem senjata artileri Panzerhaubitze 2000 Jerman gagal menahan kerasnya pertempuran di Ukraina.

Berlin belum mendapatkan cukup suku cadang untuk menjaga agar meriam tetap berfungsi. Kondisi terbaru peralatan tempur bantuan Jerman ini dilaporkan media terkemuka Jerman, Der Spiegel.

Jerman telah mengirim 14 howitzer self-propelled Panzerhaubitze (PzH) 2000 yang canggih ke Ukraina, tetapi masalah muncul saat mereka di medan perang.

Senjata-senjata itu menderita keausan dan menampilkan pesan kesalahan pada Juli. Enam unit dikirim balik ke Lithuania untuk diperbaiki.

Baca juga: Dmitri Medvedev : Jerman Sudah Bertindak Memusuhi Rusia

Baca juga: Jerman Pasok Ribuan Roket Thales Berpemandu Laser ke Ukraina

Dari jumlah tersebut, hanya lima yang akan kembali ke medan perang. Baik militer Jerman maupun industri senjatanya tidak dapat menyediakan suku cadang yang diperlukan.

Laporan itu menjelaskan teknisi harus mengkanibal salah satu dari mereka untuk memperbaiki yang lain.

Pemerintah Jerman telah menyadari kekurangan suku cadang ini sejak akhir musim panas, ketika militer memperingatkannya untuk memesan paket suku cadang yang ekstensif.

Pesanan seperti itu tampaknya tidak dibuat, dan kekurangan tersebut telah menghambat rencana Jerman untuk mendirikan pusat perbaikan di Slovakia.

Dalam perencanaan sejak September dan diumumkan Menteri Pertahanan Jerman Christine Lambrecht awal pekan ini, pusat perbaikan akan merawat howitzer yang dikirim ke Ukraina.

Pejabat militer Jerman percaya Ukraina menembakkan sebanyak 300 peluru dari masing-masing PzH 2000 per hari.

Artikel pertama Der Spiegel tentang senjata yang tidak berfungsi pada Juli mencatat 100 peluru per hari dianggap penggunaan intensitas tinggi.

Kekurangan amunisi juga memaksa Ukraina untuk memuat meriam dengan amunisi yang tidak kompatibel.

Sementara Kanselir Jerman Olaf Scholz mengutarakan keyakinannya perlu untuk terus memberikan Ukraina senjata baru untuk melawan Rusia.

Berbicara pada konferensi Partai Sosial Demokrat di kota selatan Jerman Friedrichshafen, Scholz mengklaim banyak orang takut, dan memiliki alasan untuk itu.

Sambil berjanji untuk terus mendukung Ukraina secara militer, ia mencatat negara-negara barat khawatir ada eskalasi yang dapat mengarah perang Rusia dan NATO.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved