Perang Rusia Ukraina
Senjata Arhanud Bantuan Jerman ke Ukraina Bertumbangan di Medan Perang
Senjata artileri pertahanan udara (Arhanud) bantuan Jerman ke Ukraina banyak yang rusak karena intensitas penggunaan dan peluru yang tak kompatibel.
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
“Penting untuk bertindak hati-hati dan tegas pada saat yang sama,” tambahnya.
Komentar Scholz muncul setelah bulan lalu dia memperingatkan agar tidak mengambil "langkah ceroboh" di tengah konflik Ukraina.
“Tidak boleh ada konflik langsung antara Rusia dan NATO,” tegasnya saat itu.
Hubungan barat dan Rusia telah mencapai titik terendah setelah Moskow memulai operasi militernya di Ukraina.
Bentrokan langsung antara Rusia dan NATO baru-baru juga dipicu penembakan rudal ke wilayah Polandia dekat perbatasan Ukraina.
Presiden Ukraina Volodymir Zelensky langsung menuduh Rusia pelakunya. Kementerian Luar Negeri Polandia hanya menyebut rudal itu buatan Rusia.
Namun, pada akhirnya, para pejabat barat mengakui rudal itu berasal dari Ukraina dan bukan Rusia.
Kementerian Pertahanan Rusia membantah terlibat dalam insiden itu, dengan mengatakan para ahli militernya telah menganalisis foto-foto dari tempat kejadian.
Identifikasi puing-puing itu disimpulkan bagian rudal sistem pertahanan udara S-300 yang digunakan oleh Ukraina.
Jerman, bersama dengan banyak negara barat lainnya, telah menyediakan perangkat keras militer untuk Ukraina.
Di antaranya senjata antipesawat Gepard, peluncur roket ganda HIMARS II, dan sistem pertahanan udara IRIS-T.
Moskow telah berulang kali memperingatkan pengiriman senjata hanya akan memperpanjang konflik Ukraina.(Tribunjogja.com/RussiaToday/SpiegelOnline/xna)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Inggris-dan-Sekutu-Nato-Kirim-Howitzer-dan-Ribuan-Peluru-ke-Ukraina.jpg)