Perang Rusia Ukraina
PM Inggris Rishi Sunak Serahkan Bantuan 120 Senjata Arhanud dan Radar ke Ukraina
Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak menemui Presiden Ukraina Volodymir Zelensky, dan menyerahkan bantuan peralatan militer pertahanan udara.
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
TRIBUNJOGJA.COM, KIEV - Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak secara simbolis menyerahkan paket pertahanan udara baru senilai $ 60 juta saat menemui Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Kiev, Sabtu (19/11/2022).
“Saya di sini hari ini untuk mengatakan Inggris akan terus mendukung Anda … sampai Ukraina memenangkan perdamaian dan keamanan yang dibutuhkan dan layak,” kata Sunak bersama Zelenskyy di Kiev.
Perdana Menteri Inggris mengatakan paket pertahanan itu mencakup 120 senjata antipesawat, radar, dan peralatan anti-drone.
Bantuan besar itu diberikan ke Ukraina saat Rusia melumpuhkan hampir setengah sistem energi Ukraina, memaksa pemadaman listrik di seluruh negeri di tengah suhu musim dingin yang turun hingga nol derajat.
Baca juga: PM Inggris Rishi Sunak Dukung Ukraina, Sebut Rusia Negara Nakal
Baca juga: Presiden Ukraina Zelensky Tetap Tuduh Rusia Meski Bukti Rudal Ditembakkan Ukraina
Baca juga: Zelensky Provokasi Perang NATO vs Rusia Lewat Serangan Rudal ke Polandia
Rusia menargetkan infrastruktur energi Ukraina dengan serangan jarak jauh sejak bulan lalu, termasuk menggunakan apa yang dikatakan Kiev sebagai drone Iran.
“Sangat merendahkan hati untuk bersama Anda di negara Anda hari ini. Keberanian rakyat Ukraina adalah inspirasi bagi dunia,” kata Sunak.
“Di tahun-tahun mendatang kami akan menceritakan kisah Anda kepada cucu-cucu kami, bagaimana orang-orang yang bangga dan berdaulat berdiri dalam menghadapi serangan yang mengerikan, bagaimana Anda berjuang, bagaimana Anda berkorban, bagaimana Anda menang,” tambah Sunak.
Zelenskyy memuji kunjungan Sunak, mengatakan kunjungan itu bermakna dan bermanfaat bagi kedua negara.
Dia mengatakan mereka membahas kemungkinan melindungi keamanan energi Eropa dan Ukraina, dan kemampuan melindungi langit Ukraina, serta kerja sama pertahanan secara umum.
“Teman-teman seperti Anda (Rishi Sunak) di sisi kami, kami yakin dengan kemenangan kami," cuit Zelensky di akun Twitternya.
Di medan perang, Ukraina telah membuat kemajuan sejak akhir September, merebut kembali petak-petak wilayah di timur dan selatan negara itu.
Pekan lalu, pasukan Ukraina menguasai kembali kota Kherson setelah hampir delapan bulan pendudukan. Tentara Rusia mundur ke tepi kiri Sungai Dnieper yang membelah kota itu.
Moskow melakukan mobilisasi parsial dan petugas pemadam kebakaran, mengintensifkan serangan rudal dan drone.
Perkembangan lain, mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev percaya barat telah mendorong Ukraina bernegosiasi dengan Rusia, tapi Kiev masih menolaknya.
Kekuatan barat menurut Medvedev semakin bosan dengan Presiden Ukraina Vladimir Zelensky. Di kanal Telegramnya, Medvedev menyebut AS dan NATO tak ingin ambil risiko perang dunia baru.
Reaksi terhadap serangan rudal yang menghantam desa Przewodow di Polandia pada hari Selasa, yang menewaskan dua warga sipil, telah mengungkapkan gejala itu.
Bahkan, orang-orang di Warsawa yang selama ini paling bersemangat anti-Rusia, menolak menyalahkan insiden itu pada Moskow.
Pada Jumat, Warsawa dalam Bahasa diplomatis menyebut serangan itu sebagai kecelakaan yang tidak menguntungkan yang secara praktis tidak mungkin dicegah.
Kiev telah berulang kali mencoba menyalahkan insiden itu pada Moskow. Militer Rusia, sementara itu, mengatakan tidak menembakkan rudal ke perbatasan Ukraina-Polandia.
Sementara analisis foto dari situs menunjukkan proyektil itu adalah rudal anti-pesawat S-300 yang dioperasikan pasukan Ukraina.
Baca juga: Zelensky Minta Para Pemimpin G20 Tak Desak Dirinya Negosiasi dengan Rusia
Baca juga: Medvedev : Jika Serang Krimea, Kiamat Itu Akan Tiba di Ukraina
“Semua orang bosan dengan rezim Kiev. Terutama Zelensky yang neurotik, yang terus-menerus mengobarkan ketegangan,” tulis Medvedev.
“(Zelensky) merengek, menangis tersedu-sedu, dan memeras semakin banyak uang dan senjata. (Dia) bertingkah seperti anak histeris dengan masalah perkembangan,” lanjut Medvedev meledek Zelensky.
“AS, NATO dan Uni Eropa tidak ingin pecah total dengan Rusia, mempertaruhkan (perang) dunia ketiga. Oleh karena itu, upaya yang sering dilakukan untuk mengendalikan Kiev dan menyadarkannya, mendorongnya untuk bernegosiasi,” tulis Medvedev.
Dengan menolak untuk berbicara dengan Rusia, Zelensky sebenarnya mengejar tujuan yang jauh lebih duniawi dan egois.
Dia menambahkan jika (Zelensky) tidak menerima kenyataan keruntuhan Ukraina, tidak ada gunanya duduk di meja. Jika (dia) menerimanya – dia akan ditendang oleh nasionalisnya sendiri, yang terkait petinggi tentara,” lanjutnya.
Komentar mantan presiden itu muncul ketika beberapa politisi terkemuka di barat, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron, telah berulang kali menyerukan pembicaraan langsung antara Kiev dan Moskow.
Laporan baru-baru ini juga menunjukkan Washington telah mendorong Ukraina untuk membatalkan penolakan tanpa kompromi terhadap proses perdamaian dengan Rusia.
Pekan lalu, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Mark Milley, menyarankan kemenangan militer Ukraina mungkin tidak dapat dicapai.
Musim dingin menurut Milley dapat memberikan kesempatan untuk memulai pembicaraan dengan Moskow.(Tribunjogja.com/Aljazeera/Southfront/Sputniknews/xna)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/7-Fakta-tentang-Rishi-Sunak-Perdana-Menteri-Inggris-yang-Baru.jpg)