Berita Jogja Hari Ini

Museum Muhammadiyah Resmi Dibuka: Masyarakat Bisa Rasakan Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan

Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta meresmikan Museum Muhammadiyah yang berlokasikan di Kampus 4 UAD

Penulis: Santo Ari | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/Santo Ari
Suasana pembukaan Museum Muhammadiyah yang berlokasikan di Kampus 4 UAD, Senin (14/11/2022). 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta meresmikan Museum Muhammadiyah yang berlokasikan di Kampus 4 UAD, Senin (14/11/2022).

Adapun Museum Muhammadiyah diinisiasi pada tahun 2018 oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dan Muhadjir Effendy yang kali itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI dan kini menjabat Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK).

Rektor UAD sekaligus Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muchlas mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada pemerintah dan PP Muhammadiyah yang mempercayakan pelaksanaan pembangunan fisik museum, tata pamer dan tugas pengelolaannya.  

Baca juga: Seekor Monyet Liar Mengamuk dan Lukai Dua Warga di Sawangan Magelang

“Kami meneguhkan komitmen untuk terus merawat aset Muhammadiyah dan terus mengembangkan serta mengelola secara profesional sehingga dapat memenuhi harapan persyarikatan, menjadikan fasilitas ini sebagai museum yang berkemajuan dan sebagai media untuk memajukan peradaban semesta,” ujarnya.

Adapun dalam pembangunannya, UAD diberi tugas menyediakan lahan dan sekaligus mengelola Museum Muhammadiyah. Setelah pemerintah memberikan persetujuan bantuan dana, selanjutnya diselenggarakan peletakan batu pertama 22 juli 2017 oleh Presiden Joko Widodo.

Pembangunan dilakukan tiga tahap, tahap pertama 2018 berupa pembangunan struktur gedung museum yang dilaksanakan sepenuhnya oleh pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan.

Tahap kedua adalah tahap pembangunan arsitektur secara swakelola pada 29 maret-31 desember 2019. Memasuki tahap ketiga, Indonesia terkena imbas Covid-19 sehingga bantuan pemerintah tertunda. Sehingga rektor berinisiatif untuk menyelesaikan beberapa bagian infrastruktur dan interior, tata pamer dengan pendanaan internal.

Sambil menunggu bantuan tahap ketiga, pada kuartal pertama 2022 diajukan lagi bantuan tahap ketiga untuk pembangunan mekanikal, elektrikal dan konten museum.

Museum Muhammadiyah berdiri di atas tanah seluas 1200 meter persegi dari total lahan 2800 meter persegi, yang terletak kampus 4 UAD.  Gedung 4 lantai ini terdiri dari 3000 meter persegi ruang pamer, 3000 meter persegi ruang non pamer dan landscape 1400 meter persegi. Museum ini juga melibatkan penggunaan IT pada peragaan benda-benda historisnya.

Pengunjung akan disajikan story line yang jelas tentang perjalan Muhammadiyah. Di mulai dari lantai 1 yang berisi konten historiografi dan lantai berikutnya ruang pamer tematik. Pengunjung akan merasakan masa lalu, masa kini dan masa depan.

Meskipun belum 100 persen selesai, namun museum ini sudah bisa menerima kunjungan masyarakat sebagai wahana edukasi, rekreasi, dan transformasi nilai sejarah.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy berharap museum yang belum selesai 100 persen ini dapat dibangun semaksimal mungkin.

“Bagus, walaupun mungil tidak terlalu besar bangunannya, tetapi cukup representatif. Nanti tugas berikutnya mengembangkan saja dari pihak UAD maupun PP Muhammadiyah. Agar bisa tumbuh museum ini seiring dengan pertumbuhan Muhammadiyah,” ungkapnya.

Ia pun berpesan bahwa PP Muhammadiyah bersama UAD dapat mengumpulkan artefak-artefak tentang sejarah Muhammadiyah yang tersebar di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Dengan demikian, museum ini bisa menjadi panggung sejarah Muhammadiyah yang turut ambil bagian di dalam mengisi kemerdekaan Indonesia dan menyebarkan pendidikan dan keagamaan.

“Mudah-mudahan museum ini menjadi pintu kita untuk menuju Muhammadiyah yang memasa depan. Menengok ke belakang sebentar, untuk melihat ke depan yang lebih jauh,” katanya.  

Sementar itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir juga sepakat bahwa museum bukan hanya berbicara tentang masa lampau, tetapi juga proyeksi ke masa depan. Menurutnya, museum ini merupakan tonggak baru Muhammadiyah bekerjasama dengan pemerintah, serta sebagai wujud dari kontribusi Muhammadiyah untuk bangsa.

Ia pun mengajak seluruh pimpinan wilayah daerah sampai cabang dan ranting yang punya situs penting terutama dari generasi Muhammadiyah awal agar bisa berkomunikasi dengan UAD dan MPI agar bisa melengkapi isi museum ini. Terlebih masih ada dua lantai yang perlu disempurnakan.  

Baca juga: Disperindag DIY Catat Perkembangan Nilai Ekspor Tertinggi Ada di Tiga Golongan Komoditi 

“Harapannya masyarakat punya budaya ke museum. Di Indonesia budaya ke museum masih kurang. Mestinya bisa satu paket dengan budaya rekreasi. Dengan ke museum orang akan belajar sejarah, apalagi buat generasi milenial. Kan pewaris Indonesia adalah generasi milenial, supaya mereka tidak jadi lost generation atau generasi yang hilang,’ ujarnya.
 
Selain harapannya ke masyarakat, ia juga berharap ke depan para elit bangsa yang ingin berkontestasi di 2024 baik untuk legislatif maupun eksekutif juga datang ke museum.

“Jangan hanya datang ke pesantren atau tempat-tempat yang mengandung masa. Okelah itu memang wajar, tapi datang ke museum agar belajar tentang visi kenegaraan, kebangsaan. Karena di tangan para pemimpin yang terpilih besok itulah Indonesia 5 tahun ke depan berada nasibnya, dari manapun partainya, golongannya, tetap semua harus punya visi jiwa kenegarawanan,” tandasnya. (nto)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved