Atap Sekolah di Gunungkidul Ambruk, Pakar UGM: Prosedur Pembangunan Standar Libatkan 3 Komponen
Pakar Konstruksi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Ir. Muslikh, M.Sc., M.Phil. prosedur pembangunan standar harus melibatkan tiga komponen.
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Atap SD Muhammadiyah Bogor di Playen, Gunungkidul, runtuh ambruk dan menyebabkan satu murid meninggal dunia, Selasa (8/11/2022) malam.
Hari ini, Rabu (9/11/2022), aktivitas pembelajaran di SD Muhammadiyah Bogor dihentikan sementara waktu hingga kondisi para siswa berangsur membaik.
Menanggapi hal tersebut, Pakar Konstruksi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Ir. Muslikh, M.Sc., M.Phil. prosedur pembangunan standar harus melibatkan tiga komponen.
Komponen itu diantaranya konsultan perencana, pelaksana atau kontraktor dan pengawas.
Baca juga: OPD di Pemkot Yogyakarta Didorong Perkuat Manajemen Risiko untuk Dongkrak Kualitas dan Produktifitas
Muslikh dan tim juga menjadi ahli yang digandeng pihak kepolisian untuk mengecek tragedi ambruknya atap SD Muhammadiyah Bogor, Playen itu.
Pagi tadi, pihaknya sempat meninjau dan mengambil sampel dari atap bangunan yang roboh untuk diteliti lebih lanjut di laboratorium.
“Bangunan itu syarat utamanya adalah kekuatan dan keamanan. Aman dari gaya yang bekerja, misalnya angin atau hujan. Contoh, kalau di atap itu kan ada genteng, dan itu harus kuat, kokoh menghadapi gaya-gaya yang ada,” ujar Muslikh kepada Tribun Jogja, Rabu (9/11/2022).
Ia mengatakan, beberapa hari belakangan, fenomena angin kencang, puting beliung dan hujan deras terus terjadi. Ini bisa menjadi ancaman terhadap bangunan-bangunan yang tidak dirawat dengan baik.
“Teknologi konstruksi itu, salah satunya ada baja ringan. Itu memang praktis, murah dan cepat, konsekuensinya ya rentan terhadap kekuatan yang terjadi. Maka, perlu ada aplikator spesial untuk menyediakan, menghitung dan melaksanakan pembangunan,” beber dia.
Diketahui, baja ringan menjadi salah satu bahan konstruksi yang teridentifikasi di atap yang ambruk. Sementara, gentengnya terbuat dari tanah.
Dengan begitu, pembangunan harus mematuhi standardisasi dari hulu ke hilir, kata alumni Strayche de University, Inggris itu.
Tiga komponen, konsultan perencana, pelaksana dan pengawas, jelasnya, tidak boleh ditinggalkan begitu saja saat membangun, apalagi membangun bangunan publik, seperti sekolah.
“Konsultan perencana itu yang merencanakan. Jadi, bagian memilih material dan biaya, ya di perencanaan ini. Kemudian, ada konsultan pelaksana, ini kontraktor menginterpretasikan gambar yang bakal diwujudkan dalam bentuk fisik,” terangnya.
“Bisa saja, kontraktor salah persepsi atau punya niat yang kurang bagus dengan memperkecil ukuran, mempertipis bahan, maka konsultan pengawas perlu mengawasi,” beber Muslikh.