Atap Sekolah di Gunungkidul Ambruk, Pakar UGM: Prosedur Pembangunan Standar Libatkan 3 Komponen

Pakar Konstruksi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Ir. Muslikh, M.Sc., M.Phil. prosedur pembangunan standar harus melibatkan tiga komponen.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUN JOGJA/Alexander Ermando
Situasi SD Muhammadiyah Bogor di Playen, Gunungkidul, setelah ambruknya atap bangunan pada Selasa (08/11/2022). 

Maka, sebaiknya, dari pihak Muhammadiyah harus menyerahkan proses kepada tangan yang tepat. Tiga unsur itu bisa menghasilkan produk yang aman, nyaman dan estetik.

“Sebenarnya, kalau semua dipenuhi, apa yang diinginkan bisa terwujud. Tidak bisa kalau hanya ingin murah, waton jadi. Tidak bisa seperti itu. Harus ada kaidah yang dipenuhi,” ucapnya.

Ditanya apakah perlu sekolah melakukan renovasi di masa-masa dengan cuaca tidak menentu ini, Muslikh mengatakan, pemeliharaan yang lebih awal dilaksanakan bisa membuat bangunan tetap berdiri kokoh.

Dia mencontohkan, apabila sudah 10 tahun berdiri, maka cacat-cacat di dalam bangunan harus segera ditanggulangi.

“Kalau kurang penopang ya ditambah penopang. Kalau kurang penguat ya tambah penguat,” jelasnya.

Baca juga: Disdikpora Bantul Minta Sekolah Menginventarisasi Kondisi Ruangan atau Bangunan yang Rusak

Muslikh berharap, masyarakat mulai sadar dan bersikap bijak berkaitan dengan pembangunan bangunan.

“Sekolah itu kan bangunan publik, tidak boleh dikerjakan sendirian, harus ada pengawasan dan itu intensif agar menjaga produknya sesuai dengan ketentuan,” katanya.

Dilanjutkan Muslikh, pihaknya akan menyelesaikan penelitian atap yang ambrol di SD Muhammadiyah Bogor, Playen itu secepatnya, mengingat polisi juga sudah menunggu.

Kendati demikian, ia tetap bergantung pada antrian yang ada di dalam laboratorium. (ard)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved