Berita DI Yogyakarta Hari Ini

Satu Terdakwa Klitih di Gedongkuning Divonis 10 Tahun, Keluarga Teriak Histeris di Ruang Sidang

Sidang pembacaan putusan terhadap para terdakwa perkara kekerasan jalanan atau klitih di Gedongkuning , Kotagede, Kota Yogyakarta berujung ricuh.

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Miftahul Huda
Keluarga terdakwa kasus klitih di Gedongkuning menangis histeris mendengar hasil putusan sidang di PN Yogyakarta, Selasa (8/11/2022) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sidang pembacaan putusan terhadap para terdakwa perkara kekerasan jalanan atau klitih di Gedongkuning , Kotagede, Kota Yogyakarta berujung ricuh.

Para keluarga dan rekan terdakwa tidak terima atas hasil putusan pengadilan yang dibacakan Suparman SH MH selaku ketua majelis hakim yang memimpin sidang pada perkara tersebut di Pengadilan Negeri (PN) Yogyakarta.

Sidang tersebut digelar pada Selasa (8/11/2022) dimulai pada pukul 10.56 WIB dan berakhir sekitar 13.45 WIB

Ketua majelis hakim dalam persidangan membacakan fakta-fakta persidangan sebelum akhirnya membacakan amar putusannya.

Sidang pertama pada pembacaan putusan itu diikuti tiga terdakwa yakni RNS (19) FAS (18) dan MMA (21).

Baca juga: Orang Tua dan Penasihat Hukum Terdakwa Kasus Klitih Jogja Blak-blakan Terdakwa Tak Bersalah

Sementara dua terdakwa lain yakni HAA dan AMH disidangkan di hari yang sama namun dalam persidangan terpisah sesuai nomor perkara.

Majelis hakim menyatakan terdakwa RNS, FAS dan MMA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan terang-terangan dan tenaga bersama melakukan kekerasan terhadap orang yang mengakibatkan meninggal dunua.

"Kedua menjatuhkan pidana kepada para terdakwa tersebut dengan pidana penjara masing-masing untuk terdakaa satu (RNS) dengan pidana penjara selama 10 tahun. Terdakwa dua (FAS) dan terdakwa tiga (MMA) dengan pidana penjara masing-masing selama 6 tahun penjara," kata ketua majelis hakim dalam amar putusannya.

Majelis hakim PN Yogyakarta juga memerintahkan agar para terdakwa tetap ditahan demi kepentingan hukum.

Belum selesai majelis hakim membacakan amar putusan tersebut, keluarga terdakwa tiba-tiba berteriak histeris.

Mereka menangis lantaran tak terima mendengar hasil putusan majelis hakim.

Pihak keluarga terdakwa bersikukuh bahwa putra-putranya tidaklah bersalah.

Isak tangis itu pun memicu rekan-rekan terdakwa yang sudah menanti hasil persidangan sedara awal kemudian masuk ke ruang persidangan.

Beberapa di antara dari mereka berteriak kencang sembari meminta keadilan kepada majelis hakim.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved