Tragedi Kanjuruhan dan Penataan Keadaban Persepakbolaan Nasional
Dalam literasi internasional di Eropa tentang sepak bola, ternyata membicarakan sepak bola tidaklah sesederhana melihat pertandingan.
Oleh: Brigjen Dr. Andry Wibowo S.I.K. M.H. M.Si, Peneliti dan Praktisi Konflik Identitas dan Pemolisian Kerumunan, Mantan Anggota Pasukan PBB Bosnia Herzegovina 1998-1999
TRIBUNJOGJA.COM - Ketika Timnas Indonesia gagal memenuhi target pencapaian medali emas SEA Games, saya pernah mengulasnya, dengan menggunakan judul ulasan yang mirip.
Prestasi sepak bola nasional pada ajang kompetisi tidak bisa lahir semata dari pergantian pelatih nasional. Namun harus melalui proses evolusi sistemik dan berkelanjutan dari sistem pembinaan sepak nasional.
Tentu termasuk di dalamnya industri sepakbola nasional yang sedang tumbuh dan menuju ke sepak bola profesional yang memiliki standar. Profesionalisme merupakan ukuran peradaban kolektif yang kompleks.
Dan Tragedi Kanjuruhan yang baru saja terjadi menunjukkan bahwa peradaban yang baik dalam sistem sepak bola nasional belumlah terwujud, meskipun di sisi lain prestasi kesebelasan nasional berhasil menembus kompetisi level Asia.
Dalam literasi internasional di Eropa tentang sepak bola, ternyata membicarakan sepak bola tidaklah sesederhana menyaksikan pertandingan 2 x 11 orang di tengah lapangan demi mencetak gol dan kemenangan.
Tetapi lebih luas membicarakan tentang perilaku sosial penggemar dan pendukung fanatik yang kompleks. Serta perilaku profesional aparat dan penyelenggara industri sepak bola yang sangat memerlukan kesadaran pengelolaan dan sentuhan yang tepat. Dengan tujuan terwujud suatu iklim persepakbolaan yang beradab.
Pada negara Eropa seperti Inggris, Italia, Spanyol, Jerman, dan Belanda: sepak bolanya telah menjadi industri yang menarik perhatian dunia. Karenanya, keadaban persepakbolaannya sangat penting dan mendasar. Bahkan, tidak kalah penting dengan kehadiran pemain sekelas Ronaldo, Messi dan Erling Haalland.
Keadaban persepakbolaan Eropa merupakan hasil proses panjang berkelanjutan yang bersifat kolektif dari pemerintah, organisasi persepakbolaan, klub sepak bola, suporter, aparat kepolisian, masyarakat, dunia pendidikan dan riset, termasuk pula media massa.
Keadaban persepakbolaan dapat dilihat dari indikator-indikator penting. Seperti, adanya regulasi yang diketahui dan dijalankan bersama berupa penyelenggaraan pertandingan yang memenuhi syarat keamanan, keselamatan, dan keteraturan.
Indikator selanjutnya adalah tumbuhnya industri sepak bola yang sehat dan ekonomis berupa prestasi sepakbola klub serta timnas yang kompetitif, sekaligus adanya perilaku suporter sepak bola yang berbudaya.
Hubungan interdepedensi atau saling ketergantungan yang kompleks tersebut menjadi prasyarat yang harus dijalankan oleh banyak pihak. Pihak tersebut wajahnya dapat diamati dari perilaku sosial dan perilaku profesional dalam setiap pertandingan sepak bola.
Perilaku sosial dan perilaku profesional dalam pertandingan sepak bola, selain ditujukan untuk lahirnya suatu pertandingan yang sportif dan menghibur. Lebih jauh lagi, untuk memastikan bahwa peristiwa peristiwa yang berhubungan dengan keteraturan, keamanan dan keselamatan dapat dimitigasi secara efesien dan efektif .
Untuk mewujudkan itu semua maka, pihak-pihak yang berkecimpung dalam dunia persepakbolaan harus melakukan kerja cerdas yang kompleks dan detil. Demi mewujudkan peradaban pertandingan sepakbola yang memenuhi syarat keamanan, keselamatan dan keteraturan yang disebut sebagai tata kelola pertandingan sepak bola.
Tata kelola pertandingan sepak bola sebagai micro image atau gambaran mini dari persepakbolaan nasional meliputi: pengelolaan stadion; pengelolaan penonton sepak bola; pengelolaan pertandingan sepak bola; serta pengelolaan keamanan, keselamatan, dan keteraturan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/brigjen-andri-sik.jpg)