Perang Rusia Ukraina

Apa Makna Mobilisasi Pasukan Rusia, Ini Penjelasan Pakar Geopolitik Belgia

Presiden Vladimir Putin memobilisasi pasukan cadangan untuk ditempatkan di wilayah Donbass. Mobilisasi ini jadi fase baru perang Ukraina.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
TASS
Militer Rusia melakukan latihan perang. Presiden Rusia Vladimir Putin memobilisasi pasukan cadangan untuk memgamankan referendum di wilayah Donetsk dan Lugansk di Ukraina pekan ini. 

Update Info

  • AS menganggap serius pernyataan Vladimir Putin terkait potensi penggunaan senjata nuklir 
  • Rusia menggenjot produksi peralatan militer seeiring mobilisasi pasukan cadangan
  • Pemerintah Kiev meminta tanggapan serius barat terkait mobilisasi pasukan cadangan Rusia

TRIBUNJOGJA.COM, BRUSSEL - Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan mobilisasi tentara cadangan mulai 21 September 2022, dan bersumpah membela hak wilayah Donbass, Kherson, dan Zaporozhye untuk mengadakan referendum.

Referendum akan menentukan apakah mereka akan bergabung ke Federasi Rusia atau bertahan di Ukraina. Putin juga menegaskan akan melanjutkan operasi militer khusus untuk demiliterisasi dan de-Nazifikasi Ukraina.

"Setelah Republik Rakyat Lugansk dan Donetsk, Zaporozhye dan Kherson terintegrasi di Federasi Rusia, permainan selesai," kata Paolo Raffone, Direktur CIPI Foundation, sebuah lembaga pemikir geopolitik berbasis di Brussels dikutip Russia Today, Kamis (21/9/2022).

Baca juga: Presiden Putin : Rusia Tak Menggertak Jika Harus Pakai Senjata Nuklir

Baca juga: Putin Kerahkan 2 Juta Tentara Cadangan

Baca juga: Presiden Serbia Alexander Vucic Peringatkan Perang Besar di Depan Mata

Permainan selesai karena dengan integrasi itu, Rusia memiliki landasan politik untuk menempatkan tentaranya di sepanjang perbatasan baru Donbass dan Ukraina. Dengan kata lain, setiap serangan ke wilayah itu maka akan menjadi peperangan sah melawan Rusia.

“Faktanya, Presiden AS telah berulang kali mengatakan negaranya tidak berperang dengan Rusia dan dia tidak ingin mengerahkan pasukan AS di lapangan untuk melawan Rusia,” lanjut Raffone.

“Dia (Presiden AS Joe Biden) tidak ingin menggunakan senjata non-konvensional. Karena masalah dalam negeri di AS, akan sulit untuk membalikkan pendekatan seperti itu setidaknya sampai pemilihan presiden 2024," tandasnya.

Referendum yang akan menentukan penggabungan Donetsk dan Luganks ke Federasi Rusia akan digelar di empat wilayah timur Ukraina pada 23-27 September.

Dalam pidato Rabu (20/9/2022), Vladimir Putin menarik perhatian pada kebijakan intimidasi, teror, dan kekerasan yang dilakukan oleh Kiev terhadap penduduk Donbass dan Ukraina yang memiliki pandangan pro-Rusia.

Wilayah Donbass telah berada di bawah serangan Kiev sejak 2014, ketika kudeta yang didukung AS membuat presiden yang terpilih secara demokratis, Victor Yanukovich, digulingkan kelompok paramiliter neo-Nazi.

Pihak berwenang de facto Ukraina melancarkan operasi "anti-teroris" terhadap penduduk pro-Rusia di Ukraina timur pada April 2014.

Terlepas dari upaya mediasi Eropa, Kiev telah menolak jalan rekonsiliasi dengan republik-republiknya yang memisahkan diri yang diuraikan dalam Perjanjian Minsk 2014.

Sementara itu, tokoh oposisi Ukraina, jurnalis, politisi, dan bahkan anak-anak yang menyuarakan pandangan yang bertentangan dengan agenda Kiev telah secara rutin ditempatkan dalam daftar "musuh Ukraina" oleh situs web terkenal Mirotvorets.

Beberapa di antaranya tewas terbunuh. Setelah dimulainya operasi khusus Rusia pada 24 Februari, pasukan militer Ukraina dan batalyon neo-Nazi meningkatkan pembersihan terhadap Ukraina pro-Rusia serta penyiksaan dan pembunuhan tawanan perang Rusia (POW).

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved