Perang Rusia Ukraina
Putin Kerahkan 2 Juta Tentara Cadangan
Rusia mengerahkan 2 juta pasukan cadangan militernya untuk mempertahankan wilayahnya dari ancaman pihak luar.
Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, MOSCOW - Rusia mengerahkan 2 juta pasukan cadangan militernya untuk mempertahankan wilayahnya dari ancaman pihak luar.
Pengerahan jutaan tentara cadangan ini merupakan upaya dari Presiden Rusia Vladimir Putin untuk melindungi rakyatnya sekaligus mempertahankan negaranya.
Mobilisasi militer parsial ini diumumkan oleh Putin dalam video yang disiarkan di televisi di Rusia.
"Jika integritas teritorial negara kami terancam, kami menggunakan semua cara yang tersedia untuk melindungi rakyat kami, ini bukan gertakan," kata Putin seperti yang dikutip dari Tribunnews.com yangmelansir pemberitaan CNA.
Dalam pidatonya, Putin mengungkapkan pengerahan 2 juta tentara cadangan ini merupakan upaya Rusia untuk membebaskan wilayah Donbas di Ukraina timur.
Warga di Donbas ini menurutnya tak ingin diperintah oleh Kyive sehingga Rusia akan menggunakan semua sumber daya yang dimilikinya untuk membela rakyatnya, kata Putin.
Tak hanya mengerahkan jutaan tentara cadangan, dalam pidatonya, Putin juga memerintahkan peningkatan dana guna memproduksi senjata yang banyak untuk melindungi rakyat.
Baca juga: 28.000 Narapidana di Rusia Disulap Jadi Tentaran Untuk Perang Lawan Ukraina
Presiden menambahkan bahwa Rusia memiliki banyak senjata untuk membalas ancaman Barat dan mengatakan bahwa dia tidak menggertak.
Pertemuan para pemimpin dunia di Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York sebelumnya mengecam invasi Rusia ke Ukraina, ketika para pemimpin yang ditempatkan Moskow di daerah-daerah pendudukan di empat wilayah Ukraina mengumumkan rencana untuk mengadakan referendum untuk bergabung dengan Rusia dalam beberapa hari mendatang.
Dalam langkah yang tampaknya terkoordinasi, tokoh-tokoh pro-Rusia mengumumkan referendum untuk 23 September hingga 27 September di provinsi Luhansk, Donetsk, Kherson dan Zaporizhzhia, yang mewakili sekitar 15 persen wilayah Ukraina, atau area seukuran Hongaria.
Beberapa tokoh pro-Kremlin membingkai referendum untuk wilayah yang diduduki sebagai ultimatum kepada Barat untuk menerima keuntungan teritorial Rusia atau menghadapi perang habis-habisan dengan musuh bersenjata nuklir.
“Perambahan ke wilayah Rusia adalah kejahatan yang memungkinkan Anda untuk menggunakan semua kekuatan pertahanan diri,” kata Dmitry Medvedev, mantan presiden Rusia dan sekarang wakil ketua Dewan Keamanan Putin.
Rusia sudah menganggap Luhansk dan Donetsk, yang bersama-sama membentuk wilayah Donbas yang sebagian diduduki Moskow pada 2014, sebagai negara merdeka.
Ukraina dan Barat menganggap semua bagian Ukraina yang dikuasai pasukan Rusia diduduki secara ilegal.
Rusia sekarang menguasai sekitar 60 persen Donetsk dan telah merebut hampir semua Luhansk pada Juli setelah kemajuan lambat selama berbulan-bulan pertempuran sengit. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Presiden-Jokowi-Menuju-Kremlin-untuk-Bertemu-Vladimir-Putin.jpg)