Perang Rusia Ukraina

Presiden Serbia Alexander Vucic Peringatkan Perang Besar di Depan Mata

Presiden Serbia Alexander Vucic memperingatkan dunia akan menghadapi perang besar dalam beberapa waktu dekat.

Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
JACK GUEZ / AFP
Laras howitzer kaliber 155 mm mengepul setelah memuntahkan peluru. Presiden Serbia Alex Vucic memperingatkan perang besar membayang di depan mata, konflik yang belum pernah terjadi sejak 1945. 

TRIBUNJOGJA.COM, NEW YORK - Presiden Serbia Alexander Vucic memperingatkan dunia sedang mendekati perang besar yang tak terlihat sejak 1945.

Peringatan disampaikan Vucic setelah hari pertama sesi sidang Majelis Umum PBB di New York, Rabu (20/9/2022) WIB. Menurutnya, negara-negara kecil tidak dapat mengharapkan kabar baik ke depan.

“Anda melihat krisis di setiap bagian dunia,” kata Vucic kepada penyiar negara Serbia RTS sembari  mencatat Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres membuat prediksi suram dalam pidato utamanya di persidangan.

“Saya pikir prediksi realistis seharusnya lebih gelap,” kata Vucic. “Posisi kami bahkan lebih buruk, karena PBB telah melemah dan kekuatan besar telah mengambil alih dan secara praktis menghancurkan tatanan PBB selama beberapa dekade terakhir,” katanya.

Baca juga: Rusia Ungkap Jumlah Kerugian Nyawa Selama Perang Lawan Ukraina

Baca juga: Presiden Putin : Rusia Tak Menggertak Jika Harus Pakai Senjata Nuklir

Baca juga: Adu Kecanggihan Drone di Perang Rusia Ukraina, Kremlin Pakai Shahed-136, Ukraina Pakai Bayraktar TB2

Ditanya tentang pidato Presiden Rusia Vladimir Putin, Vucic mengatakan tidak sulit untuk memprediksi garis besarnya.

“Saya berasumsi Rusia meninggalkan fase operasi militer khusus dan mendekati konflik bersenjata besar, dan sekarang pertanyaannya menjadi di mana garisnya,” kata Vucic.

“Apakah setelah waktu tertentu – mungkin satu atau dua bulan, bahkan – kita akan memasuki konflik besar dunia tidak terlihat sejak Perang Dunia Kedua,” imbuhnya.

“Bagi kita semua (negara) kecil yang hanya ingin aman dan memberikan keamanan kepada warga kita, tidak ada kabar baik atau mudah. Saya berharap semuanya ke depan melibatkan hubungan yang lebih rumit antara barat dan Rusia, tetapi juga antara barat dan China,” tambah Presiden Serbia.

Vucic sendiri bermaksud untuk berpidato di negara itu minggu depan, untuk memberi tahu orang-orang Serbia tentang keputusan penting yang ingin dibuat oleh pemerintahnya.

Serbia telah berada di bawah tekanan luar biasa dari Uni Eropa dan NATO untuk menjatuhkan sanksi terhadap Rusia dan berpihak pada barat.

Tetapi Vucic tetap mempertahankan netralitas sambil bersikeras Beograd bertujuan untuk bergabung dengan UE di beberapa titik di masa depan.

Brussels telah memberi tahu Beograd prasyarat untuk itu adalah mengakui Provinsi Kosovo yang memisahkan diri, namun Vucic telah bersumpah untuk tidak pernah melakukannya.

Rusia dan China adalah di antara separuh pemerintah dunia yang belum mengakui Kosovo, diduduki oleh NATO pada 1999 dan memproklamirkan negara pada 2008 dengan dukungan AS.

Respon China

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved