Pustral UGM Sebut Inpres Kendaraan Listrik Untuk Menciptakan Captive Market

Menurut Peneliti Senior Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (Pustral UGM), Dr Ir Arif Wismadi MSc Inpres yang ditetapkan

istimewa
ilustrasi kendaraan listrik 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Presiden Joko Widodo meneken Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 2022. 

Instruksi Presiden tersebut berisi tentang Penggunaan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai Sebagai Kendaraan Dinas Operasional dan atau Kendaraan Perorangan Instansi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. 

Menurut Peneliti Senior Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (Pustral UGM), Dr Ir Arif Wismadi MSc Inpres yang ditetapkan pada 13 September 2022 tersebut untuk menciptakan captive market. 

Baca juga: TERJADI LAGI, Warga di Kulon Progo Meninggal Dunia Setelah Tersengat Listrik Saat Pasang Galvalum

"Harapannya akan terbentuk pasar baru, di mana target volume relatif masih terkendali karena keputusan pembelian ada di sisi pemerintah dan tidak membebani dunia usaha serta individu," katanya, Senin (19/09/2022). 

Ia menerangkan dalam tahapan kematangan teknologi dikenal empat tahap pertumbuhan.

Tahap 1 adalah saat gagasan sifatnya awal dan pengembangan masih berada di laboratorium.

Tahap 2 produknya sudah masuk di pasar, namun volumenya masih sangat sedikit karena eksosistem belum terbentuk dan masih membutuhkan solusi untuk hal teknis yang belum bisa memuaskan pasar. 

Sedangkan tahap 3 adalah produk sudah diterima pasar dalam skala masif dan diterima dalam keseharian setiap rumah tangga.

Tahap 4 saat produk sudah tidak relevan dengan kebutuhan, dan masyarakat berangsur tidak menggunakan sehingga perlu inovasi atau produk baru.

Baca juga: UGM dan Pertamina Jalin Kerjasama Konservasi 10.867 Hektare Hutan di Ngawi dan Blora

"Kendaraan bermotor listrik di Indonesia saat ini adalah berada di tahap 2. Untuk membangun eksosistem perlu pasar yang sifatnya captive sehingga ada jumlah pengguna yang cukup agar fasilitas produksi, infrastruktur, layanan, insentif industri dan bisnis turunannya bisa hidup," terangnya.

"Jika hanya mengandalkan mekanisme pasar, dan keputusan individu maka volume penjualan akan berjalan lambat," sambungnya. 

Ia menambahkan saat ekosistem terbentuk, harga menjadi murah, serta sudah masuk ke tahap 3 maka mekanisme pasar bisa diterapkan. (maw)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved